Langsung ke konten utama

Luka


Pada hari di mana sebagian orang, terutama ibu-ibu dan keluarga korban ‘Kanjuruhan Disaster’ masih merasakan duka. Pada waktu mulai banyak berseliweran di media sosial sebuah wacana-narasi, yang bagi beberapa orang tertentu dapat ditangkap makna; Aparat/Militer = Pembunuh! Tentu masih banyak media yang melintir narasi seoalah-olah penembakan gas air mata itu bukan kesalahan polisi, dan yang paling konyol menurut saya adalah ucapan Ketum PSSI, M. Iriawan ‘hadirin yang berbahagia’, mengutip dari Republika.com Iriawan mengucapkan itu saat gilirannya usai Kemenpora sambutan, tepat pada tanggal 2 Oktober 22, usai Kanjuruhan Disaster. Tolol!

Jagad media kita semakin amburadul, tak terkontrol, ereksi-disrupsi esensi, bahkan, eksistensial pun tidak! Era ini, meminjam istilah Sabil dalam bukunya Googling Iman, era ini era Di-STOP-Ya. Saat aku berselancar dalam jagad sosial media, pasti ada hal-hal yang bersifat informatif-edukatif-inspiratif, tetapi kebanyakan hanya sampah, ejakulasi konten, mengemis like, viewer dan komentar. Begitu pun media massa yang juga banyak busuknya, saya miris, saya hampir menangis, tetapi tak tahu apa yang hendak saya tangisi. Iba? Mungkin itu kata yang tepat untuk digunakan. Iba kepada diriku sendiri, iba kepada orang-oarng yang hanya membuang waktunya untuk men-scroll IG, Twitter dan Facebook, sama seperti yang saya lakukan ketika tak tahu harus berbuat apalagi, setelah membaca Sartre dan tak paham, setelah menonton dokumenter dan bosan.

Bagaimanapun media massa dan sosial media, yang jagadnya melampaui realitas kita, bahkan, kawanku, Kodex baru kemarin aku bertemu dengannya di Galeri Semeru, tempat dia mencumbu kanvas dan membelai kuas. Ia mengatakan sedikit pengalamannya kepadaku dan Ainun, kalau di Bali ketika ia melihat bule, yang hanay pakai bikini, ereksi saja tidak, ‘Tidak seperti ketika melihat gambar’ katanya. Memang aku tak paham, dan sudah sejak lama aku bigun hidup di zaman ini, lebih parah akhir-akhir ini, banyak sekali bencana yang menimpa saudaraku sesama manusia. mulai dari bencana semunya ideologi dalam kepala teman-temanku sesama mahasiswa, bencana miskinnya jiwa organisatoris, bencana organisasi nir-laba yang diisi oleh orang-orang oportunis, bencana Kanjuruhan, dan terakhir yang pedih, dan membuat saya kalut dalam iba adalah bencana longsornya kolektifitas.

Seperti malam tadi, ketika kami bergabung dengan kawan-kawan ‘tulungbaca’ yang mengadakan acara tempel poster solidaritas Kanjuruhan disaster. Mulany aku masih di Kakofoni, diskusi kretek. Sebelumnya, sore saya sudah tahu perihal aksi tersebut dari Ainun yang mengatakan kalau kawan-kawan tulungbaca menggelar lapak baca, open donasi dan aksi tempel poster, saya kira acara tempel poster itu dilasungkan usai melapak, ternyata tidak. Malamnya saat di Kakofoni, ketika hpku buka di tengah diskusi yang mulai mereda, kira-kira pukul sepuluh malam lebih. Ipan mengirim info aksi tersebut di group pengurus LPM Aksara. Bayu menanggapi, saya hanya menyimak.

Usai berdiskusi, partisipan pulang, saya tahan diri sebentar, memesan kopi dan melihat-lihat buku kretek di atas meja. Salah satu buku karya Badil, dengan cover flyer rokok-rokok lama, membuat saya tertarik membukanya, sedikit membaca daftar isi lalu menutupnya kembali, melihat ulang gambar-gambar bungkus rokok jadul itu, membawa imajinasi saya mengembara sedikit ke era 60-90an itu, meski saya belum lahir dan tak tahu bagaimana rasanya hidup di zaman itu, tetapi perasaan itu selalu seperti membawa saya mengingat sesuatu yang lama sekali pernah terjadi. Kopi jadi, Iiw mengajak ngobrol saya seputar kawan-kawan LPM dan sedikit hal lain. usai ngobrol ringan dengan Iiw, aku pamit balik. Jalanan basah usai hujan, mengingatkan saya pada momen petama kali menginjakkan kaki di bumi Gayatri ini, tidak ada bau petrichor, namun ada bau masalalu.

Sampai di kontrakan, saya lihat Ainun dan Iksan masih mengerjakan tugas. Hal yang sedikit membuat saya merasa senang, entah sebab apa. Aku melanjutkan membaca Saman, karya Ayu Utami, tragis, bengis dan kejam saat sampai pada bacaan tentang Wis, Upi, Bu Angdri, Amson dan kebun, dan perlawanan terhadap perkebunan sawit. Hati saya sejak kemarin gundah tak tentu, rasanya gelisah aneh, rasanya saya ingin mengendarai sepeda onthel tua dan menyisir setiap sudut kota Tulungagung, sembari mendengarkan Remember To Remember Me, Isak Danielson, atau mengendarai beatblack kesayanganku menembus pekatnya jalan menuju Sine, sendiri. Ditambah kisah pedih seorang Wis menghadapi kekejian PM. Kalut dalam melankoli. Meski tawa keluar dari mulut kawan-kawanku yang entah membercandai apa.

Kami berangkat ke ABC, kedai yang beberapa bulan lalu digunakan acara Mantra-mantra Api, dan pada tanggal 30 September lalu digunakan sebagai peringatan sad-tember oleh salah satu hpms di FUAD. Tak lama berbincang, menentukan rute dan pembagian pasukan, kami siap mengebom tembok-tembok dengan poster, seperti seorang demonstran tempramen yang siap melempar molotov. Rute yang kurang jelas penentuannya, meski sudah ditentukan, akibat apa saya kurang jelas, yang jelas akhirnya kami berpencar. Atas usulan Danu juga kami bisa menerapkan Security Culture.

Basah jalanan Plosokandang-Jepun, sisa-sisa cebung air di jalan, dan dingin telah kami lalui. Awalnya kukira kami bakal kesulitan menempel poster, sebab tembok-tembok yang basah setelah dicumbu hujan, ternyata tidak, aku tak kepikiran kalau tak semua tembok itu terbebas dari atap. Kami kembali ke ABC, membicarakan aksi belasungkawa atas duka yang menimpa Aremania-Aremanita di Kanjuruhan. Larina agak memaksakan diri menggunakan nama aksi kamisan, beberapa kawan agak kikuk, tak jarang juga menertawakan Larina, mulai dari pola pikir hingga pembicaraannya. Aku merasa iba padanya, dan tak setuju dengan kawan-kawan yang menertawakannya. Kedua perrasaan itu tak kuungkapkan, maka kutulis saja.

Pertanyaan mendasanya adalah apakah kalian suka ditertawakan? Bila iya, tak masalah, bila tidak? Lalu kenapa kalian menertawakan orang lain? menurutuku, Larina, meminjam istilah Stirner adalah manusia unik. Ia otentik dan gigih, tetapi sayang jika ia tak suka baca buku. Itu terlihat dari caranya berbicara dan bertindak, kadang menurutku ia sendiri juga ngawur. Perlu digarisbawahi, Larina itu sosok yang penuh semangat, aku tak paham latar belakang apa yang membuat dia agaknya selalu semangat dalam setiap acra yang ada kaitannya dengan kemanusiaan. Hal yang bisa dilakukan untuk menanggapi orang seperti Larina in adalah memberi arahan, mengajak, kalau memang ia sedari awal tak suka digurui. Bukan malah menertawakan!

Hal lain yang membuat saya tiba-tiba melankoli, adalah ketika melihat dan menyaksikan fenomena-fenomana seperti yang saya rasakan sebelumnya dan malam tadi, di mana ada sebuah rasa dan perasaanku tersambar pernyataanku sendiri dalam hati; kolektifitas sekarang sudah tidak sehat. Lalu dalam pikiran, seperti badai di laut lepas pertanyaan itu muncul; apakah kolektifitas masih mungkin?

 

RS Aksara, Tulungagung

01:20 WIB, 05 Oktober 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memulai Ulang "Bagian" Hidup Dari "Kesepian"

Pada Jumat, 6 Juni 2025 atau 10 Dzulhijjah 1446 H, dini hari takbir masih bergema, bersahutan. Dari satu toa dengan toa lain. Bahkan semisal listrik lenyap, gelombang takbir itu akan tetap bergema. Dan semestinya begitu. Kalau tidak, berarti kita telah lenyap. Kiranya menjalani hari dengan kesibukan lalu menyebutnya sebagai "rutinitas" adalah fase membosankan. Jujur, bila ada yang tidak bosan, kemungkinan ia sedang atau telah mencoba mengubah cara berpikir dan merespon keadaan dengan sudut pandang lain. Satu arah berbeda memungkinkan seseorang mendapat angel menarik. Bukan sesuatu yang "baru", karena sebenarnya ia telah ada sebelumnya, hanya belum ditemukan. Seperti fotografer yang memotret objek dari berbagai sudut pandang. Tujuannya adalah memilih mana yang paling bagus dari semua arah yang telah ditentukan. Alhasil foto tersebut menentukan otentikasinya sendiri. Hal sama berlaku bagi kehidupan. Lanskap kecilnya adalah hidup saya, kamu atau kalian sendiri. Bukanny...

Bagian Haru: Menjadi Gagal Tidak Sepenuhnya Buruk

S ejak saat itu, semua menjadi kepedihan yang beruntut. Saya tidak menganggap ini adalah luka kompleks, akan tetapi dominasi perasaan kehilangan, kejatuhan dan kegagalan itu membuat jiwa saya ringkih dan raga tertatih-tatih. Saya tidak mengemis belas kasihan pada siapapun, kecuali Tuhan dan Orang Tua saya. Di tempat kerja saya melakoni diri sebagai laki-laki, yang ketika salah siap dicaci dan dihukum. Tetapi itu bukan apa-apa, bagi saya rerentetan kepedihan itu saat saya merasa ada yang lepas dari diri saya. Suatu hal yang tak bisa saya jelaskan tetapi saya mampu merasakannya, sukar untuk menyebutnya jiwa, ruh atau akal sehat. Ia lebih dari itu. Dan semenjak saat itu pula pikiran saya dibuka untuk melihat lebih leluasa, untuk mengelus batin supaya tak merengek, begitupun hati, mencegah akal saya memikirkan yang tidak-tidak. Sementara badan saya sedikit tersiksa, bisa dibilang saya kurang makan, karena pekerjaan saya 8 jam lebih maka, menurut saya makan 2x sehari itu sama sa...

Bagian Sesak

Capture; Orb: On the Movement of the Earth EP.8 Waktu mungkin akan membawamu jauh kesuatu ruang, yang belum pernah kamu bayangkan. Mungkin waktu akan mempertahankanmu di keberadaan saat ini, sampai entah kapan. Atau waktu hanya akan menghantarkan kita pada liang? Setelahnya ia pergi dan melanjutkan hitungan-hitungan tanpa kamu.  Absurditas hari ini, yang kamu rasakan, apakah ia benar-benar absurd? Atau memang "kita yang tak paham"  Aku merasakan waktu hanya beberapa saat, menikmati waktu hanya beberapa saat (dalam momen kesadaran penuh) menurutku. Aku pun memahami waktu hanya sebatas hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dst. Lalu bagaimana--tanyaku dalam permenungan--bila sebenarnya kita ini hanya rentetan waktu yang tak utuh. Jika dipahami, kefanaan adalah keniscayaan. Kita hidup sehari, terkadang rasanya selamanya. Setelah lima tahun berlalu, hari itu tak lagi ada, ia menjadi memori, menjadi ingatan. Hanya kita seorang yang mampu merasakan. Mungkin ada memori kol...