Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi belum usai

Dicumbu Cemas

DICUMBU CEMAS Bulan berpendar redup di halangi awan tipis di halaman orang duduk terlungkup menatap kosong ke betis ke rerumbunan gelap ke langit Kawan-kawannya dahulu suka berorasi, berteori-teori akhir inisering  ponsel mereka bertalu mendengar suara itu-itu menatap layar biru ke bawah Kabar bukan burung lagi cepat serupa kilat setiap saat, tanpa kata istirahat di beranda sosial maya kelewat batas meruap dalam genggaman Dunia bukan main lainnya zaman baru tiada henti merongrong ingatan, melemahkan pikiran orang-orang yang lengang tak terpaut waktu dicumbu cemas                                                            Serut, 6-2-22

Jumatan Puisi: Selasa Jiwa

012012 TIDAK SEMUA BINATANG BERJALAN TIDAK SEMUA IKAN MENYELAM TIDAK ADA YANG BISA MEWAKILKAN BURUNG BERHENTI MENGITARI CAKRAWALA TIDAK ADA YANG BISA MENGHENTIKAN AIR YANG TERUS MENGALIR TIDAK ADA YANG MAMPU MEMBERIKAN HARAPAN KEPADA DIRI SENDIRI TANPA TERKECUALI DIRIMU SENDIRI BUKAN UNTUK APA DAN KARENA APA TAPI INILAH JALAN YANG MEMANG KITA DIHADAPKAN UNTUK BERJALAN TAK PEDULI DI DEPAN ADA APA DI KANANMU ADA APA DI KIRIMU ADA APA SEMUA YANG KITA LALUI HANYA SEBATAS MASALAH YANG ANAK AYAM PUN BISA MENGATASINYA SEPERTI KELAPARAN KEHAUSAN KEDINGINAN KEPANASAN KEJATUHAN TANGGA DIROBOHKAN KENYATAAN DIHANTAM OMBAK KITA ADALAH BATU KARANG ITU DIHEMPAS ANGIN KITA ADALAH DAUN YANG GUGUR ITU KITA TAK LEBIH SEPERTI ITU DAN SEMUA YANG TELAH B ERLALU SELALU MENCIPTA HAL YANG BARU DAN AKAN TERUS BEGITU BERPUTAR TAK HENTI MENGITARI BUMI MELINTASI JALAN-JALAN YANG DI TITIK ITU KITA AKAN KEMBALI   - MESKIPUN KITA TAH HENTI MENGELUH KITA YANG DI BAWAH DI INJAK DAN DI HENTAK-HENTAK TAK HENTI  ...

Seninan Puishibi #1

  272011 Aku melihatmu seperti melihat surga Matamu bukan seperti rembulan Yang sering disebut-sebut pujangga Matamu kalau aku hiperbola Ya, seperti mutiara Berkilau dan sangat dalam   282011 Ya, mungkin aku akan sulit Mengenalmu Tak ada usaha sih Kenapa ya? Mungkin karena... Ini prespektif ya! Kita ingin, eh Aku sih, atau engkau Hanya berdekat di hati   # Pagi ini kulihat lagi Matamu yang jernih Bening seperti mata air   Oh, bunga-bunga di taman Mekarlah, mewangi Atau Oh, mata air Teruslah mengalir Terus menerus ke bawah Ke hatiku # Ya kali alay, menulis bagiku menulis saja hahaha   * Arah mata angin Orang lain Hanya ada empat Sedangkan Arah mata anginku Ada lima Utara Selatan Timur Barat Kamu!   * Sore sampai malam Matamu tak lekang dari ingatku Mata yang anggun Mata air Yang menghidupi Hidup ini 302011 Aku tidak ingin lagi Mencintaimu Aku tid...

Trigatra: Sirke Pembebasan

VOK.1 Dalam perjalanan membangun surga dunia Tak ada bidadari se-ideal dirimu Tak ada jembatan lagi Karena neraka bagiku adalah pengekangan Proyeksi itu muncul di dalam angan yang bebas liar mengembara Malaikat tak lagi menjadi jongos Dan setan-setan telah kenyang menggoda iman Ia melahap hasrat bahagia di hari kebangkitan Lalu dimana Tuhan?  Jika surga dunia benar-benar adanya Kebebasan itupun menjadi neraka bagiku Aku terkekang oleh kebebasan Kebebasan Tuhan! MK, [03:11, 01/07/20] VOK.2 Semburat kebebasan telah muncul Di ufuk timur peradaban Setiap kepala ber-otak Setiap kata "Berontak!" Menggema Bagi mereka yang rela di perintah Tidak ada neraka dalam kenyataan Surganya pun telah tergadaikan Di atas selembar kertas bertanda tangan--Tuan. Hidup dalam kebimbangan Ke-buntuan Keyakinan telah dikoyak ramai Berjubel dalam perasaan Terngiang-ngiang liang lahat pembebasan Kebebasan adalah ancaman Tidak lebih bagi diri sendiri Yang bersikeras menentang pengekangan Tapi hati tetapla...

Sandiwara Kata

Kata-kata hanya mewakili beberapa tetes saja Kasih yang turun ke jalan Turun ke pelukan Turun ke persembahan Turun ke pangkuan  Turun ke kehangatan Lagu-lagu hanya beberapa nada saja Kasih yang turun ke tanah Terbentur atap rumah Dedaunan yang tabah, juga Cipratan di persimpangan jalan Dan kali yang mengalirkan kebenaran Kdr, 21/10/20 1 Panas sekali ragamu Di bakar habis kenanganmu Pedih sekali hatimu Di tusuk rindu setiap waktu Dingin sekali ragamu Di hujani kenyataan hari-harimu Dan, beku sekali hatimu Di butakan angkara keduniawianmu Dimana hangat tubuhmu yang dulu Di peluk mesra kedamaianmu Mjg, 01/20/11 2 Cucuran air pagi hari Sedikit memberi jeda Sebelum reda;  bangun seonggok kata Tetesnya merangkul jalan Masuk ke lubuk melalui cela Sedikit sulit berkata (Tegur Sapa) pada jiwa Bahkan, genangan tercipta Menahan derita Menunggu kesempatan Dan menanggung kesakitan BK, 6-6-20 3 Apa hubungannya sastra dengan Fisika? Eh, wanita! Iya, wanita adalah sastra; Sastra adalah wanita...