Langsung ke konten utama

Bagian Haru: Menjadi Gagal Tidak Sepenuhnya Buruk

Sejak saat itu, semua menjadi kepedihan yang beruntut. Saya tidak menganggap ini adalah luka kompleks, akan tetapi dominasi perasaan kehilangan, kejatuhan dan kegagalan itu membuat jiwa saya ringkih dan raga tertatih-tatih. Saya tidak mengemis belas kasihan pada siapapun, kecuali Tuhan dan Orang Tua saya. Di tempat kerja saya melakoni diri sebagai laki-laki, yang ketika salah siap dicaci dan dihukum. Tetapi itu bukan apa-apa, bagi saya rerentetan kepedihan itu saat saya merasa ada yang lepas dari diri saya. Suatu hal yang tak bisa saya jelaskan tetapi saya mampu merasakannya, sukar untuk menyebutnya jiwa, ruh atau akal sehat. Ia lebih dari itu.

Dan semenjak saat itu pula pikiran saya dibuka untuk melihat lebih leluasa, untuk mengelus batin supaya tak merengek, begitupun hati, mencegah akal saya memikirkan yang tidak-tidak. Sementara badan saya sedikit tersiksa, bisa dibilang saya kurang makan, karena pekerjaan saya 8 jam lebih maka, menurut saya makan 2x sehari itu sama saja memulihkan sedikit energi, selebihnya kekuatan batin dan akal yang menopang. Sesekali saya merasa kasihan kepada badan saya yang kurus, tapi saya tetap bersyukur karena masig diberi kesehatan dan tidak sakit-sakitan. 

Saya, pasca kejadian itu, mengalami stagnasi yang cukup panjang. Sebulan menurut saya singkat sekali, karena masalah ekonomi yang menjepit, dua bulan seperti tidak merasakan dua bulan hidup, rasanya baru seperti kemarin. Dan begitulah seterusnya. Namun, ada hal lain yang dapat membuat saya tetap bersyukur, yakni pengetahuan dan ilmu yang saya dapat. Ternyata, gagal lulus tepat waktu bukan suatu hal yang buruk, dengan kuliah yang molor-molor ini, saya dipertemukan dengan banyak orang yang belum pernah saya kenal sama sekali dan kini rasanya mereka seperti orang terdekat saya. Mereka memberi saran, membagi ilmu dan selalu mendukung saya walau sesekali cara bercanda mereka tidak masuk akal. 

Saya bersyukur berada di posisi hari ini, di posisi tengah-tengah, antara dua jurang yang siap menarik ajal saya kapan saja. Posisi ini menuntun saya untuk terus maju dan tetap berjalan. Sesekali berhenti menengok kanan kiri, melihat pemandangan dan burung-burung, menyaksikan awan dan langit yang mesra. Juga melihat keluarga dan teman-teman saya yang telah berjalan pada roda hidupnya masing-masing. 

Saya tidak pernah menyesali apapun karena saya telah menentukannya sendiri. Saya tidak pernah ragu sedikitpun bahwa roda kehidupan saya tidak akan berhenti begitu saja, tidak akan mandek kecuali maut diutus Tuhan menyelesaikannya. Yang saya maksud tidak akan berhenti begitu saja adalah bahwa tidak mungkin Tuhan menciptakan saya hanya untuk gagal. Hanya untuk menjadi cecunguk. Tidak! Saya seorang pesimis tentang usaha saya, tetapi saya juga seorang optimis atas kehendak Tuhan yang pasti baik dan tidak salah sedikitpun. 

Saya tetap bersyukur atas kesalahan yang saya buat, karenanya saya mengenal dan merasakan sendiri bagaimana system error itu bekerja, bagaimana kemacetan itu benar-benar terjadi seketika. Dari banyak kesalahan dan kegagalan yang saya alami, saya patut berterima kasih kepada Tuhan dan kepada siapa saja yang terlibat dengan saya. Saya bangga ada di titik ini, di posisi ini. Posisi sebaik-baiknya hari. Terima kasih, kehidupan.

Saya akan terus melangkah, berlari dan berjuang ke sana. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memulai Ulang "Bagian" Hidup Dari "Kesepian"

Pada Jumat, 6 Juni 2025 atau 10 Dzulhijjah 1446 H, dini hari takbir masih bergema, bersahutan. Dari satu toa dengan toa lain. Bahkan semisal listrik lenyap, gelombang takbir itu akan tetap bergema. Dan semestinya begitu. Kalau tidak, berarti kita telah lenyap. Kiranya menjalani hari dengan kesibukan lalu menyebutnya sebagai "rutinitas" adalah fase membosankan. Jujur, bila ada yang tidak bosan, kemungkinan ia sedang atau telah mencoba mengubah cara berpikir dan merespon keadaan dengan sudut pandang lain. Satu arah berbeda memungkinkan seseorang mendapat angel menarik. Bukan sesuatu yang "baru", karena sebenarnya ia telah ada sebelumnya, hanya belum ditemukan. Seperti fotografer yang memotret objek dari berbagai sudut pandang. Tujuannya adalah memilih mana yang paling bagus dari semua arah yang telah ditentukan. Alhasil foto tersebut menentukan otentikasinya sendiri. Hal sama berlaku bagi kehidupan. Lanskap kecilnya adalah hidup saya, kamu atau kalian sendiri. Bukanny...

Bagian Sesak

Capture; Orb: On the Movement of the Earth EP.8 Waktu mungkin akan membawamu jauh kesuatu ruang, yang belum pernah kamu bayangkan. Mungkin waktu akan mempertahankanmu di keberadaan saat ini, sampai entah kapan. Atau waktu hanya akan menghantarkan kita pada liang? Setelahnya ia pergi dan melanjutkan hitungan-hitungan tanpa kamu.  Absurditas hari ini, yang kamu rasakan, apakah ia benar-benar absurd? Atau memang "kita yang tak paham"  Aku merasakan waktu hanya beberapa saat, menikmati waktu hanya beberapa saat (dalam momen kesadaran penuh) menurutku. Aku pun memahami waktu hanya sebatas hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dst. Lalu bagaimana--tanyaku dalam permenungan--bila sebenarnya kita ini hanya rentetan waktu yang tak utuh. Jika dipahami, kefanaan adalah keniscayaan. Kita hidup sehari, terkadang rasanya selamanya. Setelah lima tahun berlalu, hari itu tak lagi ada, ia menjadi memori, menjadi ingatan. Hanya kita seorang yang mampu merasakan. Mungkin ada memori kol...