Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Seninan Puishibi #1

  272011 Aku melihatmu seperti melihat surga Matamu bukan seperti rembulan Yang sering disebut-sebut pujangga Matamu kalau aku hiperbola Ya, seperti mutiara Berkilau dan sangat dalam   282011 Ya, mungkin aku akan sulit Mengenalmu Tak ada usaha sih Kenapa ya? Mungkin karena... Ini prespektif ya! Kita ingin, eh Aku sih, atau engkau Hanya berdekat di hati   # Pagi ini kulihat lagi Matamu yang jernih Bening seperti mata air   Oh, bunga-bunga di taman Mekarlah, mewangi Atau Oh, mata air Teruslah mengalir Terus menerus ke bawah Ke hatiku # Ya kali alay, menulis bagiku menulis saja hahaha   * Arah mata angin Orang lain Hanya ada empat Sedangkan Arah mata anginku Ada lima Utara Selatan Timur Barat Kamu!   * Sore sampai malam Matamu tak lekang dari ingatku Mata yang anggun Mata air Yang menghidupi Hidup ini 302011 Aku tidak ingin lagi Mencintaimu Aku tid...

AKU MABUK MAKA AKU MENULIS!

Charles Bukowski On Writing Banyak yang mengira menulis bukan jalan menjadi Hokage atau menjadi Ouka Shicibukai. Ya, memang bukan! Menulis bukan sebagai jalan, menulis ya menulis! Kalau pingin sampai tujuan ya lari atau naik bus saja, itu lebih mudah, daripada menulis. Begitulah kiranya, amanat yang mungkin kudapati dari membaca buku terjemahan Shira Media setebal 254 halaman. Diterjemahkan oleh Laila Qadria dengan cukup baik dan terbit pada tahun pandemi ini. Warbyasa!!! Buku ini, isinya hanya korespondensi Bukowski kepada kawan, lawan dan penerbit. Meski begitu, isi surat yang ditulis Bukowski menarik dan cukup menghibur. Didalam buku ini, alur surat-menyuratnya diurutkan berdasarkan waktu dengan begitu, meski hanya membaca isi suratnya saja, kita bisa merasakan perkembangan Bukowski meski tak banyak berbeda dari tahun ke tahun—seperti mabuk. Tak enak kiranya, memanggil-manggil dewa sastra tanpa memperkenalkannya terlebih dahulu. Okelah, ini dia, kita sambut sang dewa sastra ...

Trigatra: Sirke Pembebasan

VOK.1 Dalam perjalanan membangun surga dunia Tak ada bidadari se-ideal dirimu Tak ada jembatan lagi Karena neraka bagiku adalah pengekangan Proyeksi itu muncul di dalam angan yang bebas liar mengembara Malaikat tak lagi menjadi jongos Dan setan-setan telah kenyang menggoda iman Ia melahap hasrat bahagia di hari kebangkitan Lalu dimana Tuhan?  Jika surga dunia benar-benar adanya Kebebasan itupun menjadi neraka bagiku Aku terkekang oleh kebebasan Kebebasan Tuhan! MK, [03:11, 01/07/20] VOK.2 Semburat kebebasan telah muncul Di ufuk timur peradaban Setiap kepala ber-otak Setiap kata "Berontak!" Menggema Bagi mereka yang rela di perintah Tidak ada neraka dalam kenyataan Surganya pun telah tergadaikan Di atas selembar kertas bertanda tangan--Tuan. Hidup dalam kebimbangan Ke-buntuan Keyakinan telah dikoyak ramai Berjubel dalam perasaan Terngiang-ngiang liang lahat pembebasan Kebebasan adalah ancaman Tidak lebih bagi diri sendiri Yang bersikeras menentang pengekangan Tapi hati tetapla...

Resensi buku: Pelaut yang Ternoda karya Yukio Mishima

Hidup adalah kerinduan pada maut Laut lebih luas dari daratan. Itulah yang ku ketahui. Baik dari ukuran maupun isi nya. Di banding laut, daratan hanya membangun menara, gedung, dan menciptakan banyak sampah. Tapi aku hidup di daratan.  hehe Ingat laut, ingat juga lagu yang kalau tak salah bunyinya; "nenek moyangku seorang pelaut..." Pun juga mengingatkan kita kepada Kimitake Hiraoka, atau yang lebih kita kenal dengan nama Yukio Mishima, adalah Sastrawan kondang Jepang. Ia lahir abad ke-20, lebih tepatnya tahun 1925 pada bulan Januari tanggal 15 di Tokyo, Jepang. Tiga kali Mishima mendapatkan penghargaan Nobel lewat karya-karya epic nya. Dan salah satu novelnya yang telah rampung ku baca dalam judul aslinya Gogo no Eiko lalu diterjemahkan kedalam bahasa Inggris The Sailor Who Fell from Grace with the Sea yang artinya 'Pelaut yang berdosa dengan laut' tr. John Nathan. Tentunya judul itu di ambil dari tafsiran penerjemah. Tafsiran fase kedua, dari Gogo no Eiko yang di...

Sandiwara Kata

Kata-kata hanya mewakili beberapa tetes saja Kasih yang turun ke jalan Turun ke pelukan Turun ke persembahan Turun ke pangkuan  Turun ke kehangatan Lagu-lagu hanya beberapa nada saja Kasih yang turun ke tanah Terbentur atap rumah Dedaunan yang tabah, juga Cipratan di persimpangan jalan Dan kali yang mengalirkan kebenaran Kdr, 21/10/20 1 Panas sekali ragamu Di bakar habis kenanganmu Pedih sekali hatimu Di tusuk rindu setiap waktu Dingin sekali ragamu Di hujani kenyataan hari-harimu Dan, beku sekali hatimu Di butakan angkara keduniawianmu Dimana hangat tubuhmu yang dulu Di peluk mesra kedamaianmu Mjg, 01/20/11 2 Cucuran air pagi hari Sedikit memberi jeda Sebelum reda;  bangun seonggok kata Tetesnya merangkul jalan Masuk ke lubuk melalui cela Sedikit sulit berkata (Tegur Sapa) pada jiwa Bahkan, genangan tercipta Menahan derita Menunggu kesempatan Dan menanggung kesakitan BK, 6-6-20 3 Apa hubungannya sastra dengan Fisika? Eh, wanita! Iya, wanita adalah sastra; Sastra adalah wanita...