Charles Bukowski On Writing
Banyak yang mengira menulis bukan
jalan menjadi Hokage atau menjadi Ouka Shicibukai. Ya, memang bukan! Menulis
bukan sebagai jalan, menulis ya menulis! Kalau pingin sampai tujuan ya lari
atau naik bus saja, itu lebih mudah, daripada menulis.
Begitulah kiranya, amanat yang
mungkin kudapati dari membaca buku terjemahan Shira Media setebal 254 halaman.
Diterjemahkan oleh Laila Qadria dengan cukup baik dan terbit pada tahun pandemi
ini. Warbyasa!!!
Buku ini, isinya hanya korespondensi
Bukowski kepada kawan, lawan dan penerbit. Meski begitu, isi surat yang ditulis
Bukowski menarik dan cukup menghibur. Didalam buku ini, alur surat-menyuratnya
diurutkan berdasarkan waktu dengan begitu, meski hanya membaca isi suratnya
saja, kita bisa merasakan perkembangan Bukowski meski tak banyak berbeda dari
tahun ke tahun—seperti mabuk.
Tak enak kiranya, memanggil-manggil
dewa sastra tanpa memperkenalkannya terlebih dahulu. Okelah, ini dia, kita
sambut sang dewa sastra BUKOWSKI!!! Yeeee... tepuk tangan... dewa terkutuk itu
lahir di Adernach, Prusia, Jerman. Lahir pada tahun 1920, tepatnya tanggal 16
bulan Agustus, dikultus sebagai dewa yang merendah untuk tidak direndahkan.
Keluarganya memboyong Bukowski ke Amerika, yang akan menjadi salah satu
pengaruh dalam tulisan-tulisannya. Bukowski dalam karya-karyanya diusia muda,
tidak begitu mencolok dan cenderung diremehkan. Tapi, bukan Bukowski kalau
hanya diam dan menyerah, ya, mabuklah! Ia menceritakan sendiri—bisa dibaca
dalam tulisan-tulisan surat kepada sahabatnya—bahwa ia tak suka keramaian, dan
lebih sering mengunci diri di tempat tinggalnya sembari menikmati anggur dan
penyakit yang menggerogotinya. Bukowski mengidap penyakit yang sampai saat ini
belum ditemukan obatnya, dan tak akan ditemukan obatnya oleh ilmuwan maupun
dokter manapun, kecuali orang-orang gila. Penyakit Bukowski tergolong penyakit
bahaya, yang akan menggerogoti pengidapnya sampai akhir hayat. Penyakit yang
mungkin hanya satu dari sejuta orang mengidapnya, iya, penyakit menulis,
Bukowski menderitanya. Ironisnya, Bukowski bahagia mengidap penyakit itu sampai
meninggal di San Pedro, California, Amerika pada usia 73 tahun, tepatnya pada 9
Maret 1994. Selamat jalan pemabuk pesakitan, engkau terkenang!
Dalam isi surat yang ada dibuku ini, Bukowski banyak mengkritik para penulis yang hanya menulis untuk terkenal. Bagi Bukowski orang seperti itu bukanlah penulis. Tak sedikit ia mencibir
pujangga sekelas Shakespeare. Selain itu, Bukowski sering menolak jika karyanya
diubah-ubah oleh editor—meski untuk keselarasan—sebelum diterbitkan. Ia tak
suka dengan hal menjijikan seperti itu, sebab, pada jamannya banyak penulis
menjijikkan yang menulis dengan preventif serta gila popularitas. Namun, tak
jarang tulisan Bukowski dikembalikan oleh penerbit, dan ia akan merobeknya, ia
tak punya salinan tulisan yang telah ia tulis, ia tak peduli dengan hal bodoh
semacam itu, baginya, yang terpenting hanya mabuk dan menulis.
Sudah, ya! Tak ada yang menarik lagi, kecuali jika kamerad sekalian membaca bukunya sendiri, dan ingat! Tulisan ini tak cukup mewakilkan isinya, kalau ingin tahu lebih dalam, ya, baca sendiri dong! Rahayu...
Komentar
Posting Komentar