Langsung ke konten utama

Bagian Sesak

Capture; Orb: On the Movement of the Earth EP.8


Waktu mungkin akan membawamu jauh kesuatu ruang, yang belum pernah kamu bayangkan. Mungkin waktu akan mempertahankanmu di keberadaan saat ini, sampai entah kapan. Atau waktu hanya akan menghantarkan kita pada liang? Setelahnya ia pergi dan melanjutkan hitungan-hitungan tanpa kamu. 

Absurditas hari ini, yang kamu rasakan, apakah ia benar-benar absurd? Atau memang "kita yang tak paham" 

Aku merasakan waktu hanya beberapa saat, menikmati waktu hanya beberapa saat (dalam momen kesadaran penuh) menurutku. Aku pun memahami waktu hanya sebatas hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dst. Lalu bagaimana--tanyaku dalam permenungan--bila sebenarnya kita ini hanya rentetan waktu yang tak utuh. Jika dipahami, kefanaan adalah keniscayaan. Kita hidup sehari, terkadang rasanya selamanya. Setelah lima tahun berlalu, hari itu tak lagi ada, ia menjadi memori, menjadi ingatan. Hanya kita seorang yang mampu merasakan. Mungkin ada memori kolektif, tapi itu tidak permanen dan tidak utuh. Ingatan kita yang utuh dan permanen. Dan setelah mati, masih adakah ingatan kita? 

Di luar konsep keagamaan, di luar mitos dan cerita. Mungkin saja kita tak lagi memiliki ingatan, sebab otak kita tak lagi berfungsi. Catatan kita, rekam jejak, ingatan orang lain dan beberapa foto maupun tulisan yang ada menyimpan perihal tentang kita (seorang) sebagai puing-puing ingatan. Itupun tak utuh. Sementara waktu masih berjalan semaunya.

Aku sulit untuk dipaksakan realistis. Hidupku kebanyakan dari ide dan pikiran, dari naluri dan kemauan. Entah itu kemauan diri sendiri ataupun dorongan liyan. Apakah kau juga merasakan demikian? Aku ingin menulis ini sebagai catatan pengingat bahwa aku tidak utuh, bahwa aku ada hanya sementara, bahwa namaku adalah pemberian orang tua dan bahwa riwayat hidupku adalah potongan-potongan kecil yang berserakan. 

Aku mencatat ini sebagai ulasan untuk menerima takdir sebaik mungkin. Takdir yang menyatakan kefanaanku. Takdir waktu melintas menggendong kecil namaku. Nama yang akan melalui hidup dan mati dengan segala ketidakmampuan dan kelemahannya. Memikirkan hal ini membuatku lega, setidaknya aku tidak berharap lebih atas diriku sendiri, bagaimanapun, diri sendiri terkadang juga mengecewakan. Aku tidak benar-benar patuh atas apapun, bahkan kehendakku. Seperti ada yang hilang, seperti ada yang belum lengkap. 

Bila memang waktu mengajarkanku hari ini, untuk menerima kenyataan. Aku menerimanya. Aku akan mencari bagian yang hilang itu, bagian yang belum kutemukan dan yang belum lengkap dari diriku.

Catatan ini kutulis, pada Kamis, 28 Maret 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian Haru: Menjadi Gagal Tidak Sepenuhnya Buruk

S ejak saat itu, semua menjadi kepedihan yang beruntut. Saya tidak menganggap ini adalah luka kompleks, akan tetapi dominasi perasaan kehilangan, kejatuhan dan kegagalan itu membuat jiwa saya ringkih dan raga tertatih-tatih. Saya tidak mengemis belas kasihan pada siapapun, kecuali Tuhan dan Orang Tua saya. Di tempat kerja saya melakoni diri sebagai laki-laki, yang ketika salah siap dicaci dan dihukum. Tetapi itu bukan apa-apa, bagi saya rerentetan kepedihan itu saat saya merasa ada yang lepas dari diri saya. Suatu hal yang tak bisa saya jelaskan tetapi saya mampu merasakannya, sukar untuk menyebutnya jiwa, ruh atau akal sehat. Ia lebih dari itu. Dan semenjak saat itu pula pikiran saya dibuka untuk melihat lebih leluasa, untuk mengelus batin supaya tak merengek, begitupun hati, mencegah akal saya memikirkan yang tidak-tidak. Sementara badan saya sedikit tersiksa, bisa dibilang saya kurang makan, karena pekerjaan saya 8 jam lebih maka, menurut saya makan 2x sehari itu sama sa...

Memulai Ulang "Bagian" Hidup Dari "Kesepian"

Pada Jumat, 6 Juni 2025 atau 10 Dzulhijjah 1446 H, dini hari takbir masih bergema, bersahutan. Dari satu toa dengan toa lain. Bahkan semisal listrik lenyap, gelombang takbir itu akan tetap bergema. Dan semestinya begitu. Kalau tidak, berarti kita telah lenyap. Kiranya menjalani hari dengan kesibukan lalu menyebutnya sebagai "rutinitas" adalah fase membosankan. Jujur, bila ada yang tidak bosan, kemungkinan ia sedang atau telah mencoba mengubah cara berpikir dan merespon keadaan dengan sudut pandang lain. Satu arah berbeda memungkinkan seseorang mendapat angel menarik. Bukan sesuatu yang "baru", karena sebenarnya ia telah ada sebelumnya, hanya belum ditemukan. Seperti fotografer yang memotret objek dari berbagai sudut pandang. Tujuannya adalah memilih mana yang paling bagus dari semua arah yang telah ditentukan. Alhasil foto tersebut menentukan otentikasinya sendiri. Hal sama berlaku bagi kehidupan. Lanskap kecilnya adalah hidup saya, kamu atau kalian sendiri. Bukanny...