Absurditas hari ini, yang kamu rasakan, apakah ia benar-benar absurd? Atau memang "kita yang tak paham"
Aku merasakan waktu hanya beberapa saat, menikmati waktu hanya beberapa saat (dalam momen kesadaran penuh) menurutku. Aku pun memahami waktu hanya sebatas hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dst. Lalu bagaimana--tanyaku dalam permenungan--bila sebenarnya kita ini hanya rentetan waktu yang tak utuh. Jika dipahami, kefanaan adalah keniscayaan. Kita hidup sehari, terkadang rasanya selamanya. Setelah lima tahun berlalu, hari itu tak lagi ada, ia menjadi memori, menjadi ingatan. Hanya kita seorang yang mampu merasakan. Mungkin ada memori kolektif, tapi itu tidak permanen dan tidak utuh. Ingatan kita yang utuh dan permanen. Dan setelah mati, masih adakah ingatan kita?
Di luar konsep keagamaan, di luar mitos dan cerita. Mungkin saja kita tak lagi memiliki ingatan, sebab otak kita tak lagi berfungsi. Catatan kita, rekam jejak, ingatan orang lain dan beberapa foto maupun tulisan yang ada menyimpan perihal tentang kita (seorang) sebagai puing-puing ingatan. Itupun tak utuh. Sementara waktu masih berjalan semaunya.
Aku sulit untuk dipaksakan realistis. Hidupku kebanyakan dari ide dan pikiran, dari naluri dan kemauan. Entah itu kemauan diri sendiri ataupun dorongan liyan. Apakah kau juga merasakan demikian? Aku ingin menulis ini sebagai catatan pengingat bahwa aku tidak utuh, bahwa aku ada hanya sementara, bahwa namaku adalah pemberian orang tua dan bahwa riwayat hidupku adalah potongan-potongan kecil yang berserakan.
Aku mencatat ini sebagai ulasan untuk menerima takdir sebaik mungkin. Takdir yang menyatakan kefanaanku. Takdir waktu melintas menggendong kecil namaku. Nama yang akan melalui hidup dan mati dengan segala ketidakmampuan dan kelemahannya. Memikirkan hal ini membuatku lega, setidaknya aku tidak berharap lebih atas diriku sendiri, bagaimanapun, diri sendiri terkadang juga mengecewakan. Aku tidak benar-benar patuh atas apapun, bahkan kehendakku. Seperti ada yang hilang, seperti ada yang belum lengkap.
Bila memang waktu mengajarkanku hari ini, untuk menerima kenyataan. Aku menerimanya. Aku akan mencari bagian yang hilang itu, bagian yang belum kutemukan dan yang belum lengkap dari diriku.
Catatan ini kutulis, pada Kamis, 28 Maret 2025.
Komentar
Posting Komentar