Pada Jumat, 6 Juni 2025 atau 10 Dzulhijjah 1446 H, dini hari takbir masih bergema, bersahutan. Dari satu toa dengan toa lain. Bahkan semisal listrik lenyap, gelombang takbir itu akan tetap bergema. Dan semestinya begitu. Kalau tidak, berarti kita telah lenyap.
Kiranya menjalani hari dengan kesibukan lalu menyebutnya sebagai "rutinitas" adalah fase membosankan. Jujur, bila ada yang tidak bosan, kemungkinan ia sedang atau telah mencoba mengubah cara berpikir dan merespon keadaan dengan sudut pandang lain.
Satu arah berbeda memungkinkan seseorang mendapat angel menarik. Bukan sesuatu yang "baru", karena sebenarnya ia telah ada sebelumnya, hanya belum ditemukan. Seperti fotografer yang memotret objek dari berbagai sudut pandang. Tujuannya adalah memilih mana yang paling bagus dari semua arah yang telah ditentukan. Alhasil foto tersebut menentukan otentikasinya sendiri.
Hal sama berlaku bagi kehidupan. Lanskap kecilnya adalah hidup saya, kamu atau kalian sendiri. Bukannya kehidupan sudah berjalan milyardan tahun lalu sampai tiba hari ini, detik ini, dengan segala aspek maupun sesuatu yang disebut "perkembangan" atau bahkan "kemunduran" berjalan terus menerus.
Mulanya saya tidak menyadari apapun tentang kehidupan. Karena ia begitu luasnya. Dan apakah saya benar-benar membutuhkan kehidupan itu? Atau barangkali kehidupan itu sendiri membutuhkan saya? Pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu membuntuti, kadang mengganggu, tak jarang menarik perhatian.
Mengenai hidup yang semakin tak jelas arahnya ini, tak jelas pemerintahannya dan tak ada yang jelas sama sekali. Hari-hari yang begitu saja, seperti tak ada tawaran lain dari kehidupan yang kian sempit ini. Mengundang saya untuk mencari tahu apa yang tersembunyi di dalamnya dan sebenarnya. Menjadikan misteri hidup sebagai pertanyaan abadi.
Bukannya Tuhan sudah memberi petunjuk? Rasul diberi mukjizat berupa Wahyu menjadi kitab suci sebagai pedoman, adakah yang kurang dari itu? Barangkali kita yang dungu. Kita tidak pernah benar-benar membaca kitab suci, sebab kita belum cukup mendapat notifikasi. Sehingga hidup terasa tak terarah.
Namun kurang tepat rasanya, karena bagaimana orang-orang yang ditakdirkan dungu itu dapat menerima notifikasi kalau sinyal saja tak punya. Bukannya kehidupan ini butuh kuota berjuta giga supaya tak ada pesan yang terlewat, tetapi kenapa tak semua memilikinya dan terkadang sinyal susah diakses. Sehingga pertanyaan ini membuat saya berpikir ulang pada diri saya sendiri. Sudakah saya mencari cara bagaimana mendapatkan sinyal, lalu cara apalagi yang harus saya penuhi supaya punya kuota, agar tak ada pesan-pesan yang terlewat.
Saya belum menemukan jawaban lain selain "kerja" atau dengan kata ganti lain menggunakan imbuan seperti "berjuang", "berusaha", lalu "menekuni". Dan jawaban itu belum kompleks, ketika saya tahu dan menyadari kehidupan itu sesuatu yang kompleks. Seperti gema takbir, "Allahu Akbar" yang tidak hanya berarti besar dan tidak sesederhana disimpulkan "besar".
Dan sementara ini kerja adalah jawaban untuk sesuatu yang besar itu.
Komentar
Posting Komentar