Langsung ke konten utama

Resensi buku: Pelaut yang Ternoda karya Yukio Mishima

Hidup adalah kerinduan pada maut

Laut lebih luas dari daratan. Itulah yang ku ketahui. Baik dari ukuran maupun isi nya. Di banding laut, daratan hanya membangun menara, gedung, dan menciptakan banyak sampah. Tapi aku hidup di daratan. hehe

Ingat laut, ingat juga lagu yang kalau tak salah bunyinya; "nenek moyangku seorang pelaut..." Pun juga mengingatkan kita kepada Kimitake Hiraoka, atau yang lebih kita kenal dengan nama Yukio Mishima, adalah Sastrawan kondang Jepang. Ia lahir abad ke-20, lebih tepatnya tahun 1925 pada bulan Januari tanggal 15 di Tokyo, Jepang. Tiga kali Mishima mendapatkan penghargaan Nobel lewat karya-karya epic nya. Dan salah satu novelnya yang telah rampung ku baca dalam judul aslinya Gogo no Eiko lalu diterjemahkan kedalam bahasa Inggris The Sailor Who Fell from Grace with the Sea yang artinya 'Pelaut yang berdosa dengan laut' tr. John Nathan. Tentunya judul itu di ambil dari tafsiran penerjemah. Tafsiran fase kedua, dari Gogo no Eiko yang di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Pelaut yang Ternoda tr. Nurul Hanafi dan di terbitkan oleh Penerbit E.A Books, dengan tebal 246 halaman. Kembali ke Mishima, ia dikabarkan mati bunuh diri dengan merobek perutnya, pada tanggal 25 November 1970. Ia selain Author juga di kenal sebagai Aktor. Menuju ke Pelaut yang Ternoda...

Buku yang telah rampung ku baca ini, di terbitkan pertama kali tahun 1963. Menceritakan Fusako (Janda muda anak satu), Noboru anak Fusako dan Ryuji si Pelaut. Dalam novelnya ini, Mishima, hanya memberi dua alur waktu. Pertama, musim panas yang penuh dengan gejolak dan kepanasan. Kedua, musim dingin yang membekukan. Di musim panas, buku ini di awali dengan Noboru menemukan lubang di dalam lemari yang menghubungkan dengan kamar ibunya. Ia melihat ibunya telanjang. Beberapa waktu kemudian, Fusako bertemu dengan Ryuji. Tibalah momen panas, Noboru melihat keduanya main kuda-kudaan di atas ranjang. Sungguh panas sekali. Alur waktu pertama dalam novel ini, di akhiri oleh kembalinya melaut Ryuji, Pahlawan bagi Noboru, yang sedang menuju kejayaan di pulau seberang.

 Sebelum kembalinya Ryuji. Noboru pernah menceritakan Pahlawannya kepada anggota geng dan si Bos. Gengster yang cerdas dan jenius. Di umur 13 tahun mereka sudah mendiskusikan tentang hampanya dunia ini. Kebebasan adalah prinsip mereka. Pernah pada suatu waktu, mereka turun aksi. Mencari kucing, lalu Noboru mengeksekusinya; di banting, mati, lalu di beteti. Ritual ini mereka lakukan untuk melawan ketidakpastian, melawan hal yang dianggap tabu oleh masyarakat awam dan tentunya untuk menghapus ketakutan-ketakutan pada diri geng mereka.

Alur kedua dalam novel ini, menceritakan kembalinya Ryuji di akhir tahun pada musim dingin. Fusako sendiri selain menjadi Janda/Ibu, di ceritakan sebagai pemilik toko busana yang cukup terkenal dan salah satu pelanggan setianya adalah Yuriko seorang aktris, yang di gambarkan; cantik, seksi, montok dan berduit. Gambaran sosok wanita biasa yang sempurna, sehingga lelaki tidak akan sungguh-sungguh mencintai, karena hanya ingin naik ranjang dengannya. 

Ryuji datang kembali akhir tahun, selepas melaut. Ia menuju rumah Fusako. Mengingat kejadian musim panas, ia ingin segera menanggalkan mimpi tentang kejayaannya dilaut dan segera menikahi Fusako. Hal ini terbukti, ketika seharusnya ia kembali melaut, tapi tetap saja enggan. Merasa puas dengan tantangan laut dan keindahan sunset di pulau tropis. Ia tergoda kedamaian daratan, keluarga bahagia, dan kemapanan yang lain. Melihat hal ini, Noboru terkejut. Apalagi ketika ibunya mengajak ia makan di restoran dengan Ryuji dan menjelaskan bahwa mereka akan segera menikah. Tak tahan dengan hal itu, Noboru segera menceritakan kepada geng-nya selepas sekolah. Geng yang di pimpin oleh si Bos, terkejut. Tak seyogyanya Pelaut menanggalkan mimpi kejayaan dan hidup damai di daratan yang najis. Ini kesalahan besar, Ryuji Tsukazaki harus di hukum atas perlakuannya. Sebelum mengeksekusi Ryuji seperti mengeksekusi kucing pada musim panas lalu. Noboru sempat kepergok, tatkala, mengintip ibunya yang main kuda-kudaan dengan Ryuji. Fusako meminta Ryuji menghukum Noboru, namun ia menolak. Sebab, ia sudah mulai kebapakan. Hal itulah yang di takutkan Noboru, seorang Pelaut yang gagah tak seharusnya bersikap lemah gemulai. Ia sebenarnya juga takut, ketika teman-temannya menceritakan kesalahan seorang ayah. Ayah di mata anak selalu salah, tak peduli; baik, cuek, atau alim. Noboru, sepertinya oleh Mishima dilukiskan sebagai Voyeurist sebab ia terima, konsekuensi dari perbuatannya. Akhir cerita, perencanaan untuk menghukum Ryuji hari itu terlaksana.

Novel ini termasuk genre philoshopical fiction yang menguak masalah eksistensialisme. Buku ini juga merupakan kritik atas modernisme dan materialisme barat, dengan kemasan bahasa yang sarat keindahan ala Mishima. Cerita yang tak rumit dan sangat mengesankan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian Haru: Menjadi Gagal Tidak Sepenuhnya Buruk

S ejak saat itu, semua menjadi kepedihan yang beruntut. Saya tidak menganggap ini adalah luka kompleks, akan tetapi dominasi perasaan kehilangan, kejatuhan dan kegagalan itu membuat jiwa saya ringkih dan raga tertatih-tatih. Saya tidak mengemis belas kasihan pada siapapun, kecuali Tuhan dan Orang Tua saya. Di tempat kerja saya melakoni diri sebagai laki-laki, yang ketika salah siap dicaci dan dihukum. Tetapi itu bukan apa-apa, bagi saya rerentetan kepedihan itu saat saya merasa ada yang lepas dari diri saya. Suatu hal yang tak bisa saya jelaskan tetapi saya mampu merasakannya, sukar untuk menyebutnya jiwa, ruh atau akal sehat. Ia lebih dari itu. Dan semenjak saat itu pula pikiran saya dibuka untuk melihat lebih leluasa, untuk mengelus batin supaya tak merengek, begitupun hati, mencegah akal saya memikirkan yang tidak-tidak. Sementara badan saya sedikit tersiksa, bisa dibilang saya kurang makan, karena pekerjaan saya 8 jam lebih maka, menurut saya makan 2x sehari itu sama sa...

Memulai Ulang "Bagian" Hidup Dari "Kesepian"

Pada Jumat, 6 Juni 2025 atau 10 Dzulhijjah 1446 H, dini hari takbir masih bergema, bersahutan. Dari satu toa dengan toa lain. Bahkan semisal listrik lenyap, gelombang takbir itu akan tetap bergema. Dan semestinya begitu. Kalau tidak, berarti kita telah lenyap. Kiranya menjalani hari dengan kesibukan lalu menyebutnya sebagai "rutinitas" adalah fase membosankan. Jujur, bila ada yang tidak bosan, kemungkinan ia sedang atau telah mencoba mengubah cara berpikir dan merespon keadaan dengan sudut pandang lain. Satu arah berbeda memungkinkan seseorang mendapat angel menarik. Bukan sesuatu yang "baru", karena sebenarnya ia telah ada sebelumnya, hanya belum ditemukan. Seperti fotografer yang memotret objek dari berbagai sudut pandang. Tujuannya adalah memilih mana yang paling bagus dari semua arah yang telah ditentukan. Alhasil foto tersebut menentukan otentikasinya sendiri. Hal sama berlaku bagi kehidupan. Lanskap kecilnya adalah hidup saya, kamu atau kalian sendiri. Bukanny...

Bagian Sesak

Capture; Orb: On the Movement of the Earth EP.8 Waktu mungkin akan membawamu jauh kesuatu ruang, yang belum pernah kamu bayangkan. Mungkin waktu akan mempertahankanmu di keberadaan saat ini, sampai entah kapan. Atau waktu hanya akan menghantarkan kita pada liang? Setelahnya ia pergi dan melanjutkan hitungan-hitungan tanpa kamu.  Absurditas hari ini, yang kamu rasakan, apakah ia benar-benar absurd? Atau memang "kita yang tak paham"  Aku merasakan waktu hanya beberapa saat, menikmati waktu hanya beberapa saat (dalam momen kesadaran penuh) menurutku. Aku pun memahami waktu hanya sebatas hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dst. Lalu bagaimana--tanyaku dalam permenungan--bila sebenarnya kita ini hanya rentetan waktu yang tak utuh. Jika dipahami, kefanaan adalah keniscayaan. Kita hidup sehari, terkadang rasanya selamanya. Setelah lima tahun berlalu, hari itu tak lagi ada, ia menjadi memori, menjadi ingatan. Hanya kita seorang yang mampu merasakan. Mungkin ada memori kol...