Langsung ke konten utama

Sandiwara Kata

Kata-kata hanya mewakili beberapa tetes saja
Kasih yang turun ke jalan
Turun ke pelukan
Turun ke persembahan
Turun ke pangkuan 
Turun ke kehangatan

Lagu-lagu hanya beberapa nada saja
Kasih yang turun ke tanah
Terbentur atap rumah
Dedaunan yang tabah, juga
Cipratan di persimpangan jalan
Dan kali yang mengalirkan kebenaran

Kdr, 21/10/20

1

Panas sekali ragamu
Di bakar habis kenanganmu
Pedih sekali hatimu
Di tusuk rindu setiap waktu

Dingin sekali ragamu
Di hujani kenyataan hari-harimu
Dan, beku sekali hatimu
Di butakan angkara keduniawianmu

Dimana hangat tubuhmu yang dulu
Di peluk mesra kedamaianmu

Mjg, 01/20/11

2

Cucuran air pagi hari
Sedikit memberi jeda
Sebelum reda; 
bangun seonggok kata

Tetesnya merangkul jalan
Masuk ke lubuk melalui cela
Sedikit sulit berkata
(Tegur Sapa) pada jiwa

Bahkan, genangan tercipta
Menahan derita
Menunggu kesempatan
Dan menanggung kesakitan

BK, 6-6-20

3

Apa hubungannya sastra dengan Fisika?
Eh, wanita!
Iya, wanita adalah sastra;
Sastra adalah wanita;
Dan penyair hanya menerka-nerka.

4

Rindu yang baik adalah rindu yang mengakomodasi pertemuan, yang tidak mengharuskan bersua sekarang juga, yang memaklumi bahwa jarak dan waktu bekerja sesuai porsinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian Haru: Menjadi Gagal Tidak Sepenuhnya Buruk

S ejak saat itu, semua menjadi kepedihan yang beruntut. Saya tidak menganggap ini adalah luka kompleks, akan tetapi dominasi perasaan kehilangan, kejatuhan dan kegagalan itu membuat jiwa saya ringkih dan raga tertatih-tatih. Saya tidak mengemis belas kasihan pada siapapun, kecuali Tuhan dan Orang Tua saya. Di tempat kerja saya melakoni diri sebagai laki-laki, yang ketika salah siap dicaci dan dihukum. Tetapi itu bukan apa-apa, bagi saya rerentetan kepedihan itu saat saya merasa ada yang lepas dari diri saya. Suatu hal yang tak bisa saya jelaskan tetapi saya mampu merasakannya, sukar untuk menyebutnya jiwa, ruh atau akal sehat. Ia lebih dari itu. Dan semenjak saat itu pula pikiran saya dibuka untuk melihat lebih leluasa, untuk mengelus batin supaya tak merengek, begitupun hati, mencegah akal saya memikirkan yang tidak-tidak. Sementara badan saya sedikit tersiksa, bisa dibilang saya kurang makan, karena pekerjaan saya 8 jam lebih maka, menurut saya makan 2x sehari itu sama sa...

Memulai Ulang "Bagian" Hidup Dari "Kesepian"

Pada Jumat, 6 Juni 2025 atau 10 Dzulhijjah 1446 H, dini hari takbir masih bergema, bersahutan. Dari satu toa dengan toa lain. Bahkan semisal listrik lenyap, gelombang takbir itu akan tetap bergema. Dan semestinya begitu. Kalau tidak, berarti kita telah lenyap. Kiranya menjalani hari dengan kesibukan lalu menyebutnya sebagai "rutinitas" adalah fase membosankan. Jujur, bila ada yang tidak bosan, kemungkinan ia sedang atau telah mencoba mengubah cara berpikir dan merespon keadaan dengan sudut pandang lain. Satu arah berbeda memungkinkan seseorang mendapat angel menarik. Bukan sesuatu yang "baru", karena sebenarnya ia telah ada sebelumnya, hanya belum ditemukan. Seperti fotografer yang memotret objek dari berbagai sudut pandang. Tujuannya adalah memilih mana yang paling bagus dari semua arah yang telah ditentukan. Alhasil foto tersebut menentukan otentikasinya sendiri. Hal sama berlaku bagi kehidupan. Lanskap kecilnya adalah hidup saya, kamu atau kalian sendiri. Bukanny...

Bagian Sesak

Capture; Orb: On the Movement of the Earth EP.8 Waktu mungkin akan membawamu jauh kesuatu ruang, yang belum pernah kamu bayangkan. Mungkin waktu akan mempertahankanmu di keberadaan saat ini, sampai entah kapan. Atau waktu hanya akan menghantarkan kita pada liang? Setelahnya ia pergi dan melanjutkan hitungan-hitungan tanpa kamu.  Absurditas hari ini, yang kamu rasakan, apakah ia benar-benar absurd? Atau memang "kita yang tak paham"  Aku merasakan waktu hanya beberapa saat, menikmati waktu hanya beberapa saat (dalam momen kesadaran penuh) menurutku. Aku pun memahami waktu hanya sebatas hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dst. Lalu bagaimana--tanyaku dalam permenungan--bila sebenarnya kita ini hanya rentetan waktu yang tak utuh. Jika dipahami, kefanaan adalah keniscayaan. Kita hidup sehari, terkadang rasanya selamanya. Setelah lima tahun berlalu, hari itu tak lagi ada, ia menjadi memori, menjadi ingatan. Hanya kita seorang yang mampu merasakan. Mungkin ada memori kol...