Langsung ke konten utama

Trigatra: Sirke Pembebasan

VOK.1

Dalam perjalanan membangun surga dunia
Tak ada bidadari se-ideal dirimu
Tak ada jembatan lagi
Karena neraka bagiku adalah pengekangan

Proyeksi itu muncul di dalam angan yang bebas liar mengembara
Malaikat tak lagi menjadi jongos
Dan setan-setan telah kenyang menggoda iman
Ia melahap hasrat bahagia di hari kebangkitan

Lalu dimana Tuhan? 
Jika surga dunia benar-benar adanya
Kebebasan itupun menjadi neraka bagiku
Aku terkekang oleh kebebasan
Kebebasan Tuhan!
MK, [03:11, 01/07/20]

VOK.2

Semburat kebebasan telah muncul
Di ufuk timur peradaban
Setiap kepala ber-otak
Setiap kata "Berontak!"
Menggema

Bagi mereka yang rela di perintah
Tidak ada neraka dalam kenyataan
Surganya pun telah tergadaikan
Di atas selembar kertas bertanda tangan--Tuan.

Hidup dalam kebimbangan
Ke-buntuan
Keyakinan telah dikoyak ramai
Berjubel dalam perasaan
Terngiang-ngiang liang lahat pembebasan

Kebebasan adalah ancaman
Tidak lebih bagi diri sendiri
Yang bersikeras menentang pengekangan
Tapi hati tetaplah hati
Melangkah tak ber-otak
Pemberontakan telah lumpuh
Di dalam kedalaman diri
Cacat sejak awal kebebasan itu dilahirkan
MK, [03:22, 01/07/20]

VOK.3

Pembebasan layaknya daun kering berguguran
Pemberontakan melayang di tiup angin sangka-kala
Melejit ke wajah Tuhan
Berkaca pada-Nya
Tak bertumpu di atas dosa-pahala
Telanjang tanpa busana

Menangis
Tertawa
Sedih 
Bahagia
Sirna sudah
Tak ada lagi rasa
Kecuali ketenangan meski, angin bertiup kencang
Sekalipun badai menghujam
Atau kapal-kapal akan tenggelam

Kebebasan agung!
Pemberontakan agung!
MK, [03:29, 01/07/20]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian Haru: Menjadi Gagal Tidak Sepenuhnya Buruk

S ejak saat itu, semua menjadi kepedihan yang beruntut. Saya tidak menganggap ini adalah luka kompleks, akan tetapi dominasi perasaan kehilangan, kejatuhan dan kegagalan itu membuat jiwa saya ringkih dan raga tertatih-tatih. Saya tidak mengemis belas kasihan pada siapapun, kecuali Tuhan dan Orang Tua saya. Di tempat kerja saya melakoni diri sebagai laki-laki, yang ketika salah siap dicaci dan dihukum. Tetapi itu bukan apa-apa, bagi saya rerentetan kepedihan itu saat saya merasa ada yang lepas dari diri saya. Suatu hal yang tak bisa saya jelaskan tetapi saya mampu merasakannya, sukar untuk menyebutnya jiwa, ruh atau akal sehat. Ia lebih dari itu. Dan semenjak saat itu pula pikiran saya dibuka untuk melihat lebih leluasa, untuk mengelus batin supaya tak merengek, begitupun hati, mencegah akal saya memikirkan yang tidak-tidak. Sementara badan saya sedikit tersiksa, bisa dibilang saya kurang makan, karena pekerjaan saya 8 jam lebih maka, menurut saya makan 2x sehari itu sama sa...

Memulai Ulang "Bagian" Hidup Dari "Kesepian"

Pada Jumat, 6 Juni 2025 atau 10 Dzulhijjah 1446 H, dini hari takbir masih bergema, bersahutan. Dari satu toa dengan toa lain. Bahkan semisal listrik lenyap, gelombang takbir itu akan tetap bergema. Dan semestinya begitu. Kalau tidak, berarti kita telah lenyap. Kiranya menjalani hari dengan kesibukan lalu menyebutnya sebagai "rutinitas" adalah fase membosankan. Jujur, bila ada yang tidak bosan, kemungkinan ia sedang atau telah mencoba mengubah cara berpikir dan merespon keadaan dengan sudut pandang lain. Satu arah berbeda memungkinkan seseorang mendapat angel menarik. Bukan sesuatu yang "baru", karena sebenarnya ia telah ada sebelumnya, hanya belum ditemukan. Seperti fotografer yang memotret objek dari berbagai sudut pandang. Tujuannya adalah memilih mana yang paling bagus dari semua arah yang telah ditentukan. Alhasil foto tersebut menentukan otentikasinya sendiri. Hal sama berlaku bagi kehidupan. Lanskap kecilnya adalah hidup saya, kamu atau kalian sendiri. Bukanny...

Bagian Sesak

Capture; Orb: On the Movement of the Earth EP.8 Waktu mungkin akan membawamu jauh kesuatu ruang, yang belum pernah kamu bayangkan. Mungkin waktu akan mempertahankanmu di keberadaan saat ini, sampai entah kapan. Atau waktu hanya akan menghantarkan kita pada liang? Setelahnya ia pergi dan melanjutkan hitungan-hitungan tanpa kamu.  Absurditas hari ini, yang kamu rasakan, apakah ia benar-benar absurd? Atau memang "kita yang tak paham"  Aku merasakan waktu hanya beberapa saat, menikmati waktu hanya beberapa saat (dalam momen kesadaran penuh) menurutku. Aku pun memahami waktu hanya sebatas hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dst. Lalu bagaimana--tanyaku dalam permenungan--bila sebenarnya kita ini hanya rentetan waktu yang tak utuh. Jika dipahami, kefanaan adalah keniscayaan. Kita hidup sehari, terkadang rasanya selamanya. Setelah lima tahun berlalu, hari itu tak lagi ada, ia menjadi memori, menjadi ingatan. Hanya kita seorang yang mampu merasakan. Mungkin ada memori kol...