Langsung ke konten utama

Jumatan Puisi: Selasa Jiwa

012012

TIDAK SEMUA BINATANG BERJALAN
TIDAK SEMUA IKAN MENYELAM
TIDAK ADA YANG BISA MEWAKILKAN BURUNG BERHENTI MENGITARI CAKRAWALA
TIDAK ADA YANG BISA MENGHENTIKAN AIR YANG TERUS MENGALIR
TIDAK ADA YANG MAMPU MEMBERIKAN HARAPAN KEPADA DIRI SENDIRI
TANPA TERKECUALI DIRIMU SENDIRI
BUKAN UNTUK APA DAN KARENA APA
TAPI INILAH JALAN YANG MEMANG KITA DIHADAPKAN UNTUK BERJALAN
TAK PEDULI DI DEPAN ADA APA
DI KANANMU ADA APA
DI KIRIMU ADA APA
SEMUA YANG KITA LALUI HANYA SEBATAS MASALAH YANG ANAK AYAM PUN BISA MENGATASINYA
SEPERTI KELAPARAN
KEHAUSAN
KEDINGINAN
KEPANASAN
KEJATUHAN TANGGA
DIROBOHKAN KENYATAAN
DIHANTAM OMBAK KITA ADALAH BATU KARANG ITU
DIHEMPAS ANGIN KITA ADALAH DAUN YANG GUGUR ITU
KITA TAK LEBIH SEPERTI ITU
DAN SEMUA YANG TELAH B ERLALU SELALU MENCIPTA HAL YANG BARU
DAN AKAN TERUS BEGITU
BERPUTAR
TAK HENTI
MENGITARI BUMI
MELINTASI JALAN-JALAN YANG DI TITIK ITU KITA AKAN KEMBALI
 
-
MESKIPUN KITA TAH HENTI MENGELUH
KITA YANG DI BAWAH
DI INJAK
DAN DI HENTAK-HENTAK
TAK HENTI
 
SEMUA MUNGKIN MERASAKAN
DALAM TARAF KETENTUAN YANG BERBEDA
SEPERTI BURUNG YANG MATI DITEMBAK
YANG SATU DAN YANG LAIN AKAN TAK SAMA
PELURU YANG TERKENA KEPALA
DAN PELURU YANG MENEMBUS JANTUNG
AKAN SAMA-SAMA JATUH DAN MATI
ITULAH MENGAPA
UNTUK APA TERUS BERSEDIH
UNTUK APA MENANGISI YANG TAK PERLU DIBANJIRI AIR MATA
ITULAH MENGAPA TAK ADA YANG PERLU DIRATAPI DI HIDUP INI
SEMUA AKAN BEGITU
DAN SEMUA MEMANG BEGITU
 
-
KITA LELAH DAN INGIN TERIAK
LANTANG SELANTANGNYA
JANCOK
JANCOK
JANCOK
TAPI KITA SELALU MENAHAN
ENTAH APA YANG MEMBUAT KITA MAMPU MENAHAN
MULUT HANYA INGIN MEROKOK
LIDAH INGIN MERASAKAN ANGGUR SAJA
TENGGOROKAN KERING, DAHAGA
DAN HATI YANG MEMBARA
TERBAKAR
 
-
KITA BERTAHAN
SEOLAH PALING MAMPU MENGHADAPI DUNIA INI SENDIRI
KITA MULAI TAK PERCAYA LAGI
PADA APAPUN
PADA SIAPAPUN
KITA LELAH
DAN MENGHADAPINYA SENDIRI
NAMUN KITA SELALU MUNAFIK SAAT BERTEMU LIYAN
SEOLAH KITA BAHAGIA DI DEPAN MEREKA
KITA ITU
BANGSAT
TENGIK
DAN KITA SELALU BEGITU
 
-
MENNGISLAH TANPA AIR MATA
TERTAWALAH TANPA SUARA
TERSENYUMLAH TANPA RAUT
TERIAKLAH TANPA NGOTOT
BERDIRILAH TANPA ALAS
DUDUKLAH TANPA KURSI
MEMANJATLAH TANPA TANGAN DAN KAKI
MERENUNGLAH TANPA SEPI
BERDIAMLAH DENGAN SUARA
MENUNDUKLAH TANPA MENUNDUKKAN KEPALA
BERJUANGLAH TANPA USAHA
Diam
Diam
Diam
Diam
Diam
Diambang gelora
 
-
Tidak ada yang perlu disemogakan
Deritamu kan menyusut
Air matamu kan mengering
Lukamu kan sembuh
Hatimu kan teduh
Terimalah
Terimalah
Terimalah
Dan terima!
 
-
Kita harus bangkit
Tanpa memaksa
Kita harus terjatuh
Tanpa sengaja
Kita selalu
Dan selalu
Akan tahu
Setelah semua berlalu
 
Sekarang
 
-
Cukuplah matahari saja yang bersinar
Kita tidak usah memaksa diri
Cukuplah rembulan yang juga bersinar
Dan bintang-bintang
Kita tidak perlu memaksa
Terima saja nanti
Kita akan bersinar tanpa perlu
Matahari
Bulan
Dan bintang-bintang
Kita akan bersinar
Bersinar di kegelapan
Bersinar di tengah-tengah terik
 
-
Sudah
Sudah-sudah
Sudahi ini
Baik
Buruk
Tenang
Gemuruh
Sudah
Sudihlah
Sudahlah!
x
x

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian Haru: Menjadi Gagal Tidak Sepenuhnya Buruk

S ejak saat itu, semua menjadi kepedihan yang beruntut. Saya tidak menganggap ini adalah luka kompleks, akan tetapi dominasi perasaan kehilangan, kejatuhan dan kegagalan itu membuat jiwa saya ringkih dan raga tertatih-tatih. Saya tidak mengemis belas kasihan pada siapapun, kecuali Tuhan dan Orang Tua saya. Di tempat kerja saya melakoni diri sebagai laki-laki, yang ketika salah siap dicaci dan dihukum. Tetapi itu bukan apa-apa, bagi saya rerentetan kepedihan itu saat saya merasa ada yang lepas dari diri saya. Suatu hal yang tak bisa saya jelaskan tetapi saya mampu merasakannya, sukar untuk menyebutnya jiwa, ruh atau akal sehat. Ia lebih dari itu. Dan semenjak saat itu pula pikiran saya dibuka untuk melihat lebih leluasa, untuk mengelus batin supaya tak merengek, begitupun hati, mencegah akal saya memikirkan yang tidak-tidak. Sementara badan saya sedikit tersiksa, bisa dibilang saya kurang makan, karena pekerjaan saya 8 jam lebih maka, menurut saya makan 2x sehari itu sama sa...

Memulai Ulang "Bagian" Hidup Dari "Kesepian"

Pada Jumat, 6 Juni 2025 atau 10 Dzulhijjah 1446 H, dini hari takbir masih bergema, bersahutan. Dari satu toa dengan toa lain. Bahkan semisal listrik lenyap, gelombang takbir itu akan tetap bergema. Dan semestinya begitu. Kalau tidak, berarti kita telah lenyap. Kiranya menjalani hari dengan kesibukan lalu menyebutnya sebagai "rutinitas" adalah fase membosankan. Jujur, bila ada yang tidak bosan, kemungkinan ia sedang atau telah mencoba mengubah cara berpikir dan merespon keadaan dengan sudut pandang lain. Satu arah berbeda memungkinkan seseorang mendapat angel menarik. Bukan sesuatu yang "baru", karena sebenarnya ia telah ada sebelumnya, hanya belum ditemukan. Seperti fotografer yang memotret objek dari berbagai sudut pandang. Tujuannya adalah memilih mana yang paling bagus dari semua arah yang telah ditentukan. Alhasil foto tersebut menentukan otentikasinya sendiri. Hal sama berlaku bagi kehidupan. Lanskap kecilnya adalah hidup saya, kamu atau kalian sendiri. Bukanny...

Bagian Sesak

Capture; Orb: On the Movement of the Earth EP.8 Waktu mungkin akan membawamu jauh kesuatu ruang, yang belum pernah kamu bayangkan. Mungkin waktu akan mempertahankanmu di keberadaan saat ini, sampai entah kapan. Atau waktu hanya akan menghantarkan kita pada liang? Setelahnya ia pergi dan melanjutkan hitungan-hitungan tanpa kamu.  Absurditas hari ini, yang kamu rasakan, apakah ia benar-benar absurd? Atau memang "kita yang tak paham"  Aku merasakan waktu hanya beberapa saat, menikmati waktu hanya beberapa saat (dalam momen kesadaran penuh) menurutku. Aku pun memahami waktu hanya sebatas hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dst. Lalu bagaimana--tanyaku dalam permenungan--bila sebenarnya kita ini hanya rentetan waktu yang tak utuh. Jika dipahami, kefanaan adalah keniscayaan. Kita hidup sehari, terkadang rasanya selamanya. Setelah lima tahun berlalu, hari itu tak lagi ada, ia menjadi memori, menjadi ingatan. Hanya kita seorang yang mampu merasakan. Mungkin ada memori kol...