Langsung ke konten utama

AKU MABUK MAKA AKU MENULIS #2

AFORISME DARI BUKU: CHARLES BUKOWSKI ON WRITING

#

Karya seni bagus adalah yang kuasa menggetarkan jiwa, kalau tidak, berarti itu cuma karya picisan.

Sepenggal isi surat Bukowski kepada John Webb (1961), yang saya kutip sebagai aforisme/peribahasa. Bukowski banyak meninggalkan karya-karya agung. Sebagai penulis ia jujur dalam menulis apapun, dan tak pernah menulisnya untuk kedua kali, dalam artian ketika ia menulis, ia jarang sekali merubah karya yang ia tulis, bahkan, ia tidak punya salinan karyanya. Ia sering mengkritik sajak-puisi yang dimuat disalah satu majalah ternama. Dimana kebanyakan penulis, menulis puisi bukan dari hati ataupun perasaan, hanya menyulam kata-kata meskipun ada makna, tapi tak sesekali menggetarkan jiwa.

#

Kenapa mencoba? Orang-orang yang senantiasa duduk di aula simfoni mengagumi kreasi namun tak bisa menciptakannya sendiri.

Patahan surat Bukowski kepada para editor Coastline (Akhir tahun 1962). Di dalam surat ini, Bukowski curhat kalau ia tak bisa menulis puisi yang bagus –dibanding orang lain. Ia memang selalu merendah, tapi tak cukup merendah untuk direndahkan, ia malah sering merendah untuk merendahkan orang lain, begitulah sang Dewa Sastra. Ia tidak berjanji kepada penerbit itu untuk menulis naskah yang indah, namun ia akan mencoba –seperti aforisme diatas.

#

Tuhan tampaknya cukup jauh dariku, mungkin dia ada di dalam botol bir di suatu tempat, dan aku memang kasar.

Serpihan curhat Bukowski kepada John William Corrington (1 Mei 1963). Nampaknya Bukowski sedang pilu kehabisan anggur atau mungkin ia baru saja ditolak penerbit, yang pasti, ia sedang buruk situasi. Dirinya kali ini merendah tapi tidak merendahkan liyan seperti ungkapnya sebelum aforisme yang di atas, “Puisi bagus dan mendayu-dayu serta pemikiran hanyalah bagi mereka yang punya waktu.” Di surat kali ini, ia memang sedang sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan anggur, bir, dan rokonya. Jika ia menganggur dan bingung tak dapat menulis puisi, ia akan pergi ke perpus untuk ngopi bersama Schopenhauer, Aristoteles dan Plato.

#

... ya Tuhan, para alkoholik, penyair, orang-orang yang bunuh diri, pecandu, orang gila, semuanya sudah muak! Aku tak mengerti kenapa kita harus hidup dengan cara mengerikan, suram, dan hina dalam sebuah masa di mana peradaban telah mengguncang untuk membunuh kita semua.

Puing-puing kata bijak Bukowski yang ada di suratnya kepada Jack Conroy (1 Mei 1964). Bukowski, diawal surat mengucapkan terima kasih kepada Conroy atas bukunya sang sedang ia baca –The Disinherited. Di dalam suratnya, Bukowski mencurahkan ketertarikan karena di dalam buku yang ia baca, karena di buku itu memperlihatkan orang-orang seperti dia, orang-orang yang dikenalnya dari keadaan mereka yang dulu dan sekarang, demi uang. Ia memang miskin dan hanya bekerja sampingan untuk makan dan minum, selebihnya ia menulis dan terus menulis.

#

Aksi yang bagus menurutku adalah kreasi, dengan huruf K besar. Berkarya atau berhenti.

Seonggok kata-kata Bukowski yang ditulis dalam suratnya kepada Darrel Kerr (29 April 1967).

#

Dunia puisi itu halus, dan didominasi orang-orang palsu.

Ketenaran + keabadian adalah permainan bagi orang lain.

Dua kalimat yang ungkapkan Bukowski melalui suratnya kepada Jack Micheline (2 Januari 1968). Bukowski dalam surat ini, mengkritik majalah besar di Chicago –Poetry, yang dulunya adalah majalah bagus sekarang hanya berisi penyair lembek dan penipu. Penipu disini dimaksudkan untuk penyair yang menulis puisi namun luput akan hati atau tulisan yang tanpa perasaan.

#

Aku bukan seorang revolusioner sejati. Aku Cuma menulis kata-kata. Tapi gagasan mengganti pemerintahan yang satu dengan pemerintahan berikutnya, tampaknya bukan sebuah pencapaian besar. Kita harus mulai dari individu. Kita harus mengganti individu yang ada sekarang dengan jenis yang lain, atau kalau itu tak bisa dilakukan, maka kita harus memperbaiki yang ada sedemikian rupa. Dan aku tak punya jawaban atas masalah itu, lebih banyak kata, mungkin. Kata-kata, kata-kata, kata-kata, kata-kata, membangun aliran.

Kelopak kata Bukowski yang ditulis dalam suratnya kepada Darlene Fife (Juni, 1973). Bukowski sebenarnya bukan pribadi yang suka mengurusi pemerintahan, ia hanya mabuk dan menulis. Tapi di sini ia agaknya ingin memberi semangat kepada kawannya, Fife. Di dalam surat ini, ia mencoba memotivasi kawannya kata-kata, iya, hanya dengan kata-kata yang ia bisa.

#

Menulis bagiku bukanlah sebuah pekerjaan.

Ketik saja dulu. Mengetik akan terasa menyenangkan kalau ada hal yang menarik untuk diucapkan, dan hal semacam itu tidak selalu datang tiap hari.

Dua batang kalimat di atas, ditulis oleh Bukowski dalam suratnya kepada John Martin (3 Januari 1982). Bukowski mencurahkan isi hatinya kepada kawannya, Martin. Tulisannya baru saja ditolak oleh penerbit, meski begitu –dalam suratnya, ia bilang kepada Martin akan tetap dan terus menulis, tak peduli tulisan itu jelek. Sesuatu hal yang menarik dari Bukowski, ia seperti orgasme saat mendengar mesin tik, dan tak peduli ditolak berapa kali oleh penerbit, ia tetap menulis, menulis dan menulis.

#

... karena itu aku hanya menulis sajak, sajak, sajak ... kalau sajak-sajak itu tidak keluar aku mungkin sudah bunuh diri atau minum pil di rumah sakit jiwa terdekat.

Sebotol kata ini, ditulis Bukowski dalam suratnya kepada Carl Weissner (22 Agustus 1986). Bukowski menulis ribuan sajak, sebelum menulis cerita pendek maupun novel. Baginya sajak-sajak adalah udara yang ia hirup dan keluarkan setiap hari. Dalam surat ini, ia ingin mengatakan kepada Carl, kalau dirinya tidak akan menulis jika tak ingin menulis. Isi surat ini, sedikit cerita kalau ia baru saja didatangi tamu –Barbet, kawannya. Barbet, menanyakan kepada Bukowski yang ada di dalam kardus itu apakah semua sajak-sajak karyanya, seperti biasa ia merendah –kali ini benar-benar merendah, ia menjawab kalau sajak-sajak hanya sajak tahun ini saja, ia membandingkan dirinya dengan Martin yang menulis lebih banyak sajak yang tak diterbitkan. Pada waktu yang sama Bukowski mengatakan kalau ia tak pernah memilih sajak yang harus ia terbitkan, “waktu yang kugunakan untuk memilih sajak-sajak ini bisa digunakan untuk menulis lebih banyak sajak lagi,” ungkapnya.

*

Masih banyak aforisme-aforisme yang ada dibuku ini, namun tak cukup mampu aku mengungkapkan semua disini. Bukowski bagiku penulis yang biasa saja, penulis yang memang penulis, di mana ia tak lebih memilih mati dari pada tidak menulis, atau kalau katanya sendiri –Bukowski, menulis adalah bagiku adalah penyakit yang tak ada obatnya. Seperti yang ada di dalam surat kepada Carl Weissner, ia mengatakan; kalau aku tidak menulis sajak lagi berarti aku bunuh diri atau minum pil di rumah sakit jiwa.

--

Aforisme-aforisme lainnya:

“Aku tidak tertarik dengan puisi. Aku tak tahu apa yang menarik bagiku. Sesuatu yang tidak membosankan, pasti. Puisi yang tepat adalah puisi yang mati, bahkan kalau terdengar bagus sekalipun”

“Entah dunia puisi atau duniaku, atau mungkin duniaku dan dunia kalian, sedang terbuka lebar. Apapun itu, rasanya menyenangkan, dan sesekali aku harus membiarkan diri merasa senang...”

“Menurutku banyak sekali penyair, mereka yang jujur, akan mengaku tidak punya manifestasi.”

“Bukan berarti puisi adalah badut kasar tak bertanggung jawab yang melemparkan kata-kata dalam kekososngan. Tapi puisi yang bagus punya alasan tersendiri untuk keberadaannya.”

“Beberapa penulis mengalami nasib yang sama terutama karena mereka pada dasarnya adalah pemberontak, sedangkan aturan tata bahasa, seperti layaknya aturan di dunia ini, menyerukan ketaatan, sebuah penegasan atas kebencian naluriah para penulis, dan lebih jauh lagi, ketertarikan mereka terletak pada cakupan subjek dan semangat yang lebih luas...”

“Aku tidak berhati-hati menulis puisi, jatuh dalam formasi kata yang buta dan sembarangan, konsep yang mengalir, dengan harapan menemukan jalan yang baru dan lebih hidup. Waktu itu aku memang terbawa emosi, tapi ini kulakukan demi keaggunan dan energi karya.”

“Aku sering bersikap seperti orang yang suka mengasingkan diri, beranggapan yang terpenting hanyalah penciptaan puisi, bentuk seni yang murni.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian Haru: Menjadi Gagal Tidak Sepenuhnya Buruk

S ejak saat itu, semua menjadi kepedihan yang beruntut. Saya tidak menganggap ini adalah luka kompleks, akan tetapi dominasi perasaan kehilangan, kejatuhan dan kegagalan itu membuat jiwa saya ringkih dan raga tertatih-tatih. Saya tidak mengemis belas kasihan pada siapapun, kecuali Tuhan dan Orang Tua saya. Di tempat kerja saya melakoni diri sebagai laki-laki, yang ketika salah siap dicaci dan dihukum. Tetapi itu bukan apa-apa, bagi saya rerentetan kepedihan itu saat saya merasa ada yang lepas dari diri saya. Suatu hal yang tak bisa saya jelaskan tetapi saya mampu merasakannya, sukar untuk menyebutnya jiwa, ruh atau akal sehat. Ia lebih dari itu. Dan semenjak saat itu pula pikiran saya dibuka untuk melihat lebih leluasa, untuk mengelus batin supaya tak merengek, begitupun hati, mencegah akal saya memikirkan yang tidak-tidak. Sementara badan saya sedikit tersiksa, bisa dibilang saya kurang makan, karena pekerjaan saya 8 jam lebih maka, menurut saya makan 2x sehari itu sama sa...

Memulai Ulang "Bagian" Hidup Dari "Kesepian"

Pada Jumat, 6 Juni 2025 atau 10 Dzulhijjah 1446 H, dini hari takbir masih bergema, bersahutan. Dari satu toa dengan toa lain. Bahkan semisal listrik lenyap, gelombang takbir itu akan tetap bergema. Dan semestinya begitu. Kalau tidak, berarti kita telah lenyap. Kiranya menjalani hari dengan kesibukan lalu menyebutnya sebagai "rutinitas" adalah fase membosankan. Jujur, bila ada yang tidak bosan, kemungkinan ia sedang atau telah mencoba mengubah cara berpikir dan merespon keadaan dengan sudut pandang lain. Satu arah berbeda memungkinkan seseorang mendapat angel menarik. Bukan sesuatu yang "baru", karena sebenarnya ia telah ada sebelumnya, hanya belum ditemukan. Seperti fotografer yang memotret objek dari berbagai sudut pandang. Tujuannya adalah memilih mana yang paling bagus dari semua arah yang telah ditentukan. Alhasil foto tersebut menentukan otentikasinya sendiri. Hal sama berlaku bagi kehidupan. Lanskap kecilnya adalah hidup saya, kamu atau kalian sendiri. Bukanny...

Bagian Sesak

Capture; Orb: On the Movement of the Earth EP.8 Waktu mungkin akan membawamu jauh kesuatu ruang, yang belum pernah kamu bayangkan. Mungkin waktu akan mempertahankanmu di keberadaan saat ini, sampai entah kapan. Atau waktu hanya akan menghantarkan kita pada liang? Setelahnya ia pergi dan melanjutkan hitungan-hitungan tanpa kamu.  Absurditas hari ini, yang kamu rasakan, apakah ia benar-benar absurd? Atau memang "kita yang tak paham"  Aku merasakan waktu hanya beberapa saat, menikmati waktu hanya beberapa saat (dalam momen kesadaran penuh) menurutku. Aku pun memahami waktu hanya sebatas hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dst. Lalu bagaimana--tanyaku dalam permenungan--bila sebenarnya kita ini hanya rentetan waktu yang tak utuh. Jika dipahami, kefanaan adalah keniscayaan. Kita hidup sehari, terkadang rasanya selamanya. Setelah lima tahun berlalu, hari itu tak lagi ada, ia menjadi memori, menjadi ingatan. Hanya kita seorang yang mampu merasakan. Mungkin ada memori kol...