Dunia
sekarang semakin cepat. Bukan hanya waktu. Mulai dari makanan, minuman, sampai
informasi dan hal lain tak dapat dibendung kecepatannya. Kecuali pilihan
menolak atau menyingkir dari pola-pola instan. Mie instan mungkin sejak
paruh abad yang lalu mulai diproduksi dan membeludak. Kini tak hanya mie
instan melainkan semua jenis makanan dari makanan berat sampai ringan. Menilik
minuman pun demikian, sejak bila cocacola dan minuman soft drink serta mineral
kemasan. Begitupun pakaian.
Jika
ditelisik lebih jauh. Ini jelaslah dampak dari kecanggihan teknologi dan
kapitalisme yang tak kunjung menggali liang lahatnya sendiri. Dari
teknologi transportasi dan komunikasi, menjadikan apa-apa lebih mudah. Ditambah
sokongan kebutuhan sehari-hari yang telah disediakan pemilik modal dari
keringat para proletar yang setiap hari bekerja seperti robot. Ini akan
berlanjut sampai para pekerja menjadi pengangguran karena digantikan oleh mesin
dan robot. Sudah terlihat sekarang. Apakah ini zaman akhir? Zaman di mana
pribadi manusia sudah tak memiliki identitas, prinsip dan kekuatan. Kesemuanya
lebur menjadi coretan tak beraturan di kertas putih.
Benar jika
sesuatu itu seimbang dan memiliki sisi masing-masing. Baik positif atau
negatif. Tetapi sekarang yang sedang kita alami adalah sisi buruk dari majunya
teknologi yang enyah dengan batas.
Suatu saat,
manusia akan menganggur. Barang produksi menumpuk tak terjual. Krisis ekonomi
menjangkit. Ditambah murkanya alam yang tak kenal ampun. Kapitalisme komat-kamit
bingung karena liang lahatnya semakin jelas. Kaum buruh? Entah. Mereka juga
menjadi korban. Komunisme? Tak akan berjalan. Lalu bagaimana manusia bisa
bertahan?
Mulanya
manusia akan mengalami depresi hebat. Banyak berita kematian. Namun masih ada
yang bertahan dan mencari solusi untuk mengatasi masalah baru ini. Masalah yang
tak pernah terjadi sebelumnya. mereka adalah kaum intelektual jujur dan bebas.
Yang tak pernah menjilat pemerintah. Mereka berpikir, berdiskusi dan mencari
solusi bersama. Untuk menghibur masyarakat yang tak segera mentas dari derita,
dihibur oleh seniman yang bukan artis seperti disebut di negeri ini. Mereka
seniman yang mengabdikan hidupnya untuk keindahan yang jujur. Bukan keindahan
yang palsu. Keindahan yang jujur adalah yang senasib dengan karya dan
penikmatnya.
Kedua
pentolan manusia itu akan menjadi pondasi kokoh untuk membangun ulang tatanan
hidup yang lebih baik. Bagaimana kemudian dengan kapitalisme? Kapitalisme
sebenarya sudah berada di liang lahat. Ia menjadi mayat hidup. Ketika melihat
dunia mulai memulih. Ia merangkak naik ingin keluar dari liang lahatnya. Maka
untuk siapa saja manusia yang melihatnya akan baik jika segera mencegahnya.
Karena dunia tak membutuhkan lagi produk-produk kapitalism. Karena mereka
menyaksikan kejadian mereka dengan mata kepala sendiri bagaimana kerusakan
dunia yang hampir memusnahkan bumi ini akibat rakusnya para pemilik modal.
Beruntung jika bisa dicegah. Dunia akan hidup harmoni, mungkin juga penantian
Karl Marx akhirnya terjadi. Namun sayang, Marx tak dapat menyaksikan. Mungkin
aku juga.
Bumi sudah
lelah. Mari istirahat sejenak. Berhenti, agar waktu kembali normal dan ruang
kembali bersih.
Coretan ini
hanya fiktif belaka. Tapi, yang fiksi berangkat dari yang nyata. Fiksi akan
menjelma realita. Kapan? Tak ada yang tahu.

Komentar
Posting Komentar