Langsung ke konten utama

Menyunam


Tidak ada lagi Jakarta Hari Ini a la For Revenge, tidak butuh juga Ingin Hilang Ingatan-nya Rocket Rockers. Aku tetap berdiri di sini sejak pubertas, tepatnya saat SMP. Aku selalu percaya bahwa segala sesuatu tidak pernah berubah seutuhnya. Seperti diriku, kerja semesta adalah pantulannya. Maka tidak ada yang disalahkan dan dibenarkan, apapun yang telah terjadi sudah terekam, dan hanya semesta pemilik kasetnya.

Aku, kalian dan semua tidak pernah benar berubah. Perubahan hanya tinggal omong kosong yang berbusa-busa. Kecuali perubahan itu berjalan sendirinya, oleh pantulan-pantulan diri kita, yang sebenarnya bukan perubahan, yang ada hanya penghapusan, pemberlakuan dan ketetapan sementara. Lihatlah pohon-pohon, angin, laut, matahari, langit yang begitu saja setiap hari. Atau lihatlah dirimu sendiri, apa yang berubah darimu?

Perubahan itu khayali, hanya ada dalam Power Rangers, Satria Baja Hitam dan angan-angan. Ketika preman menodong pisau ke lehermu lantas kau berubah menjadi lebih kuat dan perkasa? Berubah menjadi Ubermensch, atau berubah menjadi makhluk kecil malang ber-egoisme? Kamu tetap lemah, jika dirimu memang lemah! Kekuatan lahir dari tempaan dan latihan rutin, bukan pemberian mutlak dadakan.

Hal ini juga berlaku pada sifat dan perasaan. Tak ada yang bisa dirubah atau dipaksa berubah. Ketika dirimu kecewa terhadap sesuatu, ambil lah contoh kecewa karena dunia ini berjalan di luar prasangkamu. Kamu menaruh harap dan percaya pada satu titik (fokus), entah itu barang mati atau barang hidup (baca: makhluk) Sampai pada waktu apa yang kamu percayai berkhianat. Lantas apa yang bisa kau lakukan? Kau tidak bisa merubah kekecewaanmu menjadi bahagia, itu hanya topeng, hipokrit!

Kecewa sajalah! Kecewa, ya, kecewa! Lalu ada pertanyaan apakah kamu akan kecewa terus menerus; bersedih, meratapi, hingga air matamu menenggelamkan dirimu pun kamu tetap kecewa. Aku bukan mencoba mencari jawaban atau solusi, hanya saja kita bisa berganti, --bukan berubah—ke hal lain.

‘Salin’ bahasaku. Iya kita hanya perlu salin, dan tidak ada esensi perubahan dari salin, yang ada hanya eksistensi diri saja yang berganti. Dari yang kecewa menjadi yang melankolia dan sok paling menderita! Bisa juga menjadi ceria. Tetapi aneh, kamu kecewa tapi kamu ceria. Lucu.

Perubahan hanya bagi mereka yang menolak berganti dan takut dianggap tak berkemajuan. Persetan perubahan, egoisme komunal, egoisme personal. Persetan semua yang hanya menggunakan pikiran tanpa membuka mata dan sebaliknya. Persetan diriku sendiri yang sampai saat ini, bangsatnya, masih mempercayai bahwa matamu dalah mata biru yang memencarkan kedalaman, keseriusan, penuh misteri. Persetan sekaligus cinta aku. 

Hanya tanpa kebenaran partikular cum kesalahan singular, kita bisa hidup harmoni. Pada ujungnya nanti, lihat saja...

 

Kembalilah cinta, kembali

Pergilah jiwa, pergi

Leburlah jasad, lebur

Ajal mengintai, menjuntai

Kasih

K. A. Shibi

Highhelp, 18 Oktober 22

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian Haru: Menjadi Gagal Tidak Sepenuhnya Buruk

S ejak saat itu, semua menjadi kepedihan yang beruntut. Saya tidak menganggap ini adalah luka kompleks, akan tetapi dominasi perasaan kehilangan, kejatuhan dan kegagalan itu membuat jiwa saya ringkih dan raga tertatih-tatih. Saya tidak mengemis belas kasihan pada siapapun, kecuali Tuhan dan Orang Tua saya. Di tempat kerja saya melakoni diri sebagai laki-laki, yang ketika salah siap dicaci dan dihukum. Tetapi itu bukan apa-apa, bagi saya rerentetan kepedihan itu saat saya merasa ada yang lepas dari diri saya. Suatu hal yang tak bisa saya jelaskan tetapi saya mampu merasakannya, sukar untuk menyebutnya jiwa, ruh atau akal sehat. Ia lebih dari itu. Dan semenjak saat itu pula pikiran saya dibuka untuk melihat lebih leluasa, untuk mengelus batin supaya tak merengek, begitupun hati, mencegah akal saya memikirkan yang tidak-tidak. Sementara badan saya sedikit tersiksa, bisa dibilang saya kurang makan, karena pekerjaan saya 8 jam lebih maka, menurut saya makan 2x sehari itu sama sa...

Memulai Ulang "Bagian" Hidup Dari "Kesepian"

Pada Jumat, 6 Juni 2025 atau 10 Dzulhijjah 1446 H, dini hari takbir masih bergema, bersahutan. Dari satu toa dengan toa lain. Bahkan semisal listrik lenyap, gelombang takbir itu akan tetap bergema. Dan semestinya begitu. Kalau tidak, berarti kita telah lenyap. Kiranya menjalani hari dengan kesibukan lalu menyebutnya sebagai "rutinitas" adalah fase membosankan. Jujur, bila ada yang tidak bosan, kemungkinan ia sedang atau telah mencoba mengubah cara berpikir dan merespon keadaan dengan sudut pandang lain. Satu arah berbeda memungkinkan seseorang mendapat angel menarik. Bukan sesuatu yang "baru", karena sebenarnya ia telah ada sebelumnya, hanya belum ditemukan. Seperti fotografer yang memotret objek dari berbagai sudut pandang. Tujuannya adalah memilih mana yang paling bagus dari semua arah yang telah ditentukan. Alhasil foto tersebut menentukan otentikasinya sendiri. Hal sama berlaku bagi kehidupan. Lanskap kecilnya adalah hidup saya, kamu atau kalian sendiri. Bukanny...

Bagian Sesak

Capture; Orb: On the Movement of the Earth EP.8 Waktu mungkin akan membawamu jauh kesuatu ruang, yang belum pernah kamu bayangkan. Mungkin waktu akan mempertahankanmu di keberadaan saat ini, sampai entah kapan. Atau waktu hanya akan menghantarkan kita pada liang? Setelahnya ia pergi dan melanjutkan hitungan-hitungan tanpa kamu.  Absurditas hari ini, yang kamu rasakan, apakah ia benar-benar absurd? Atau memang "kita yang tak paham"  Aku merasakan waktu hanya beberapa saat, menikmati waktu hanya beberapa saat (dalam momen kesadaran penuh) menurutku. Aku pun memahami waktu hanya sebatas hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dst. Lalu bagaimana--tanyaku dalam permenungan--bila sebenarnya kita ini hanya rentetan waktu yang tak utuh. Jika dipahami, kefanaan adalah keniscayaan. Kita hidup sehari, terkadang rasanya selamanya. Setelah lima tahun berlalu, hari itu tak lagi ada, ia menjadi memori, menjadi ingatan. Hanya kita seorang yang mampu merasakan. Mungkin ada memori kol...