![]() |
| Foto oleh M. Bahruddin |
15 Januari
tahun lalu, saya kalah taruhan dengan teman saya berinisial MSA. Sebungkus rokok
pabrikan Kediri rela saya berikan padanya. Walau nilai rupiahnya tak seberapa, saya
merasa kalah telak, hampir diinjak-dinjak oleh tulisannya yang terbit di
berbagai media setelah hari kemenangannya itu. Iya, saya bertauh tulisan. Siapa
yang tulisannya dimuat oleh media terlebih dahulu, maka ia yang menang.
Waktu itu media
yang dituju adalah Terminalmojok, media yang didirikan oleh Puthut EA kalau
saya tidak salah. Kami menyadari kalau kualitas tulisan kami belum seberapa,
bahkan bisa dikata belum baik sama sekali. Bagaimanapun kami hanya punya semangat
dan rasa percaya diri tinggi sebagai modal awal—yang kelak akan menentukan siapa
diri saya dan siapa dirinya—mencoba atau iseng-iseng mengirim karya tulis kami.
Saya dengannya
sama-sama berproses di pers mahasiswa atau yang biasa disebut Lembaga Pers Mahasiswa
(LPM), mulai dari semester pertama sampai sekarang. Menuju tahun ke empat kami
belajar di lpm dengan gaung nama “Aksara”, saya bersyukur, bungah dan bangga
sekali ia terpilih menjadi Pimpinan Umum (PU), setelah usai masa jabatannya
sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred). Saya angkat topi untuknya.
Harapan
kecil saya kepadanya supaya bisa memimpin dengan baik, dalam artian mampu memproduksi
wacana menjadi karya. Selain itu saya salut karena ia masih produktif menulis,
entah sampai kapan ia mampu bertahan dalam kebimbangan yang banyak ditularkan dari
mitos: pekejaan menulis tidak menjamin kehidupan (materi). Namun saya yakin ia
memiliki maksud lain kenapa ia menulis.
MSA, teman
saya, adalah orang yang layak ditiru semangatnya. Sampai saya menulis ini pun
saya masih terinspirasi oleh semangatnya, ya, walau terkadang ia menulis karena
butuh uang, tetapi ini bukan masalah, sebab ia telah mampu berkarya dan
membuktikannya, tidak hanya wacana yang mengarat di kepala. Ia mengejakulasikan
ide-idenya menjadi kata-kata. Ia tidak membuang percuma, tidak juga sia-sia.
Selamat teman, setahun lalu adalah pencapaian awal dari ejakulasimu. Masih ada robekan yang harus kamu jahit, masih banyak lubang media yang harus kamu setubuhi dengan pena digitalmu. Masih banyak waktu dan kesunyian untuk terus ejakulasi ide dan mimpi-mimpi. Begitupun dengan saya. Semangat! Kamu tidak sendiri.

Komentar
Posting Komentar