Langsung ke konten utama

Bagian Bingung

Foto roti itu saya ambil kemarin lusa (roti buatan Ce Jane). Usai kerja dan rehat di slowbar, sembari menemani Deo teman saya yang bertugas hari itu. Saya tidak memakannya, saya sudah kenyang. Sebentar kemudian saya pulang, maksud pulang di kehidupan saya sekarang adalah pergi meninggalkan tempat kerja menuju ke mes. Di kamar saya mengerjakan sedikit tugas saya. Ngantuk kemudian tidur. 

Esok paginya saya bekerja. Mulai set up section, belanja, nyiapin prepare, kemudian kalibrasi. Saya ditemani Fandi, kami mengulik-ngulik biji ajaib ini. Iya, kami pakai bean Frinsa 60% dimix Bali Lemukih 40%. Yang kedua beans itu diroasting sendiri oleh bos kami Ko Manda! Bagaimanapun kami harus menemukan hasil espresso untuk dijadikan white sesuai selera bos kami. 

Kemudian saya bekerja seperti biasanya. Membuat produk, istirahat, membuat produk lagi. Kebetulan cafe sedang sepi, saya dan teman tim bar bersih2 dan prepare seadanya. Saya pulang ontime, duduk dislowbar, diajari Fandi bikin cold drip. Lalu pulang. Kembali ke mes.

Di mes saya hpan saja sampai ngantuk dan tidur. Kemudian saya bangun dan mandi. Sekarang sedang bingung mau mengerjakan apa. Mau edit foto saya tak punya banyak bahan. Alhasil saya menulis ibi saja. Sebuah catatan absurd. Catatan kehidupan yang dangkal. Bagaimanapun saya tetap menikmatinya. Mau apa lagi yang harus saya cari? Mau sebanyak apa mimpi sampai saya malas? Mau cepat kaya dengan cara apa? Begitulah kemauan kemauan rakus yang mengendap dalam diri saya. 

Saya kurang menyadari kalau saya ini terbatas. Waktu saya terbatas, kemampuan saya terbatas, pikiran saya punya titik lelah dan jiwa saya ringkih. Adakah kalian mengalami hal yang sama? Mari, mari untuk tidak menghardik diri sendiri. Mari mengobati luka dari keputusan yang dengan percaya telah kita pilih dan jalankan. Mari, hidup hari ini. 

Bagiamanapun hari ini, kita punya hak dan tanggung jawab untuk menghidupinya. Menghidupi diri sendiri, menghidupi akal budi, menghidupi jiwa dan keberanian. Siapakah kita yang menghidupi? Kita tak punya kuasa untuk menghidupi hidup seperti yang saya sebut di atas bukan. Maka jelas sudah, bahwa Tuhan kita yang punya hak prerogatif dan punya kuasa untuk mengidupi kita. Tugas kita menjalaninya dengan teguh. Semoga hari ini hari baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian Haru: Menjadi Gagal Tidak Sepenuhnya Buruk

S ejak saat itu, semua menjadi kepedihan yang beruntut. Saya tidak menganggap ini adalah luka kompleks, akan tetapi dominasi perasaan kehilangan, kejatuhan dan kegagalan itu membuat jiwa saya ringkih dan raga tertatih-tatih. Saya tidak mengemis belas kasihan pada siapapun, kecuali Tuhan dan Orang Tua saya. Di tempat kerja saya melakoni diri sebagai laki-laki, yang ketika salah siap dicaci dan dihukum. Tetapi itu bukan apa-apa, bagi saya rerentetan kepedihan itu saat saya merasa ada yang lepas dari diri saya. Suatu hal yang tak bisa saya jelaskan tetapi saya mampu merasakannya, sukar untuk menyebutnya jiwa, ruh atau akal sehat. Ia lebih dari itu. Dan semenjak saat itu pula pikiran saya dibuka untuk melihat lebih leluasa, untuk mengelus batin supaya tak merengek, begitupun hati, mencegah akal saya memikirkan yang tidak-tidak. Sementara badan saya sedikit tersiksa, bisa dibilang saya kurang makan, karena pekerjaan saya 8 jam lebih maka, menurut saya makan 2x sehari itu sama sa...

Memulai Ulang "Bagian" Hidup Dari "Kesepian"

Pada Jumat, 6 Juni 2025 atau 10 Dzulhijjah 1446 H, dini hari takbir masih bergema, bersahutan. Dari satu toa dengan toa lain. Bahkan semisal listrik lenyap, gelombang takbir itu akan tetap bergema. Dan semestinya begitu. Kalau tidak, berarti kita telah lenyap. Kiranya menjalani hari dengan kesibukan lalu menyebutnya sebagai "rutinitas" adalah fase membosankan. Jujur, bila ada yang tidak bosan, kemungkinan ia sedang atau telah mencoba mengubah cara berpikir dan merespon keadaan dengan sudut pandang lain. Satu arah berbeda memungkinkan seseorang mendapat angel menarik. Bukan sesuatu yang "baru", karena sebenarnya ia telah ada sebelumnya, hanya belum ditemukan. Seperti fotografer yang memotret objek dari berbagai sudut pandang. Tujuannya adalah memilih mana yang paling bagus dari semua arah yang telah ditentukan. Alhasil foto tersebut menentukan otentikasinya sendiri. Hal sama berlaku bagi kehidupan. Lanskap kecilnya adalah hidup saya, kamu atau kalian sendiri. Bukanny...

Bagian Sesak

Capture; Orb: On the Movement of the Earth EP.8 Waktu mungkin akan membawamu jauh kesuatu ruang, yang belum pernah kamu bayangkan. Mungkin waktu akan mempertahankanmu di keberadaan saat ini, sampai entah kapan. Atau waktu hanya akan menghantarkan kita pada liang? Setelahnya ia pergi dan melanjutkan hitungan-hitungan tanpa kamu.  Absurditas hari ini, yang kamu rasakan, apakah ia benar-benar absurd? Atau memang "kita yang tak paham"  Aku merasakan waktu hanya beberapa saat, menikmati waktu hanya beberapa saat (dalam momen kesadaran penuh) menurutku. Aku pun memahami waktu hanya sebatas hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dst. Lalu bagaimana--tanyaku dalam permenungan--bila sebenarnya kita ini hanya rentetan waktu yang tak utuh. Jika dipahami, kefanaan adalah keniscayaan. Kita hidup sehari, terkadang rasanya selamanya. Setelah lima tahun berlalu, hari itu tak lagi ada, ia menjadi memori, menjadi ingatan. Hanya kita seorang yang mampu merasakan. Mungkin ada memori kol...