Langsung ke konten utama

Postingan

Ha, senja?

Senja 25/10/19.   I Mata memerah  Bangun hendak cerita Kepada siang II Panas menyengat Rapuh hati dipasung Hidup dan uang III Rasa hatiku  Tersayat kenyataan Nota dan emas IV Pasrah sudahi Tak ada air mata Aspal panas-Nya V Gerigi terus Memutar pikiranku Mulai kembali VI Kepada angin Di jalan tanpa batu Sore yang raya VII Akhirnya diam Ucapan kotor mulut Kepada senja VIII Perlahan sirna Anak panah yang lepas Burung berkelebat IX Menghujam dada Darah keluar deras Rona merah itu X Maka sudahlah Selesai dalam hening Gemuruh adzan

Trihatekno

Aku yang mati tak terkoneksi Wi-Fi Miskin kuota Bingung dan resah tidak punya kuota Sendiri sepi Duduk dan diam Dingin nya malam hujan Tak terkoneksi 15/02/21

Tentang Dunia yang Mungkin Ada

  Dunia sekarang semakin cepat. Bukan hanya waktu. Mulai dari makanan, minuman, sampai informasi dan hal lain tak dapat dibendung kecepatannya. Kecuali pilihan menolak atau menyingkir dari pola-pola instan. Mie instan mungkin sejak paruh abad yang lalu mulai diproduksi dan membeludak. Kini tak hanya mie instan melainkan semua jenis makanan dari makanan berat sampai ringan. Menilik minuman pun demikian, sejak bila cocacola dan minuman soft drink serta mineral kemasan. Begitupun pakaian. Jika ditelisik lebih jauh. Ini jelaslah dampak dari kecanggihan teknologi dan kapitalisme yang tak kunjung menggali liang lahatnya sendiri. Dari teknologi transportasi dan komunikasi, menjadikan apa-apa lebih mudah. Ditambah sokongan kebutuhan sehari-hari yang telah disediakan pemilik modal dari keringat para proletar yang setiap hari bekerja seperti robot. Ini akan berlanjut sampai para pekerja menjadi pengangguran karena digantikan oleh mesin dan robot. Sudah terlihat sekarang. Apakah ini zaman a...

Dicumbu Cemas

DICUMBU CEMAS Bulan berpendar redup di halangi awan tipis di halaman orang duduk terlungkup menatap kosong ke betis ke rerumbunan gelap ke langit Kawan-kawannya dahulu suka berorasi, berteori-teori akhir inisering  ponsel mereka bertalu mendengar suara itu-itu menatap layar biru ke bawah Kabar bukan burung lagi cepat serupa kilat setiap saat, tanpa kata istirahat di beranda sosial maya kelewat batas meruap dalam genggaman Dunia bukan main lainnya zaman baru tiada henti merongrong ingatan, melemahkan pikiran orang-orang yang lengang tak terpaut waktu dicumbu cemas                                                            Serut, 6-2-22

Beban? Ya, Ini Hidup!

  Lucu sih, ketika ada yang menyatakan kalau aku adalah orang yang tak pernah memiliki beban. Lalu kembali kutanyakan: Apa itu beban? Banyak yang tak menyadari bahwa hidup (manusia) adalah beban. Beban itu, hematku, adalah hidup itu sendiri. Tak mungkin seseorang tak memiliki beban, jika hidup sendiri adalah beban. Lalu berlebihan kah jika aku mengatakan bahwa hidup adalah beban? Tidak! Lalu, jika hidup adalah beban, apa solusi untuk mengurangi beban itu? Tidak! Kutegaskan ‘tidak’ karena memang tak perlu dikurangi. Alasanku hidup karena aku memiliki banyak beban. Sangat keliru jika sseorang bunuh diri hanya karena merasa hidupnya penuh beban. Beban ada untuk menghidupi semangat pembebasan. Bukan agar terbebas dari beban, namun menyelesaikan. Di sini aku menggunakan kata ‘selesai’ karena tak ada kata yang mampu menandinginya. Kebanyakan orang bilang berhasil pada momen pun posisi tertentu, namun belum tentu selesai. Selama manusia bernafas artinya ia belum selesai; apapun itu. ...

Ceguk Vok. I

 I Mati rasanya  dihantam kerinduan Hujan tak reda II Ingin rasanya  terbang ke atas awan Cerahnya semi III Bukan ingin ku Balik ke masa lalu Setetes embun IV Pergilah jauh Dalam gelap nan sunyi Sebelum surya V Mari tertawa Tenggelam dalam senang Sore yang cerah VI Bersuka ria Berjalan dengan senyum Di bawah hujan VII Beriring luka Masuk dalam dada Masa yang lalu VIII Mengejar mimpi Dengan penuh semangat Pagi yang cerah IX Menerjang ombak Jiwa yang penuh luka Ke ufuk barat X Pernah terlintas Wajahmu dalam angan Sebelum tidur

AKU MABUK MAKA AKU MENULIS #2

AFORISME DARI BUKU: CHARLES BUKOWSKI ON WRITING # Karya seni bagus adalah yang kuasa menggetarkan jiwa, kalau tidak, berarti itu cuma karya picisan. Sepenggal isi surat Bukowski kepada John Webb (1961), yang saya kutip sebagai aforisme/peribahasa. Bukowski banyak meninggalkan karya-karya agung. Sebagai penulis ia jujur dalam menulis apapun, dan tak pernah menulisnya untuk kedua kali, dalam artian ketika ia menulis, ia jarang sekali merubah karya yang ia tulis, bahkan, ia tidak punya salinan karyanya. Ia sering mengkritik sajak-puisi yang dimuat disalah satu majalah ternama. Dimana kebanyakan penulis, menulis puisi bukan dari hati ataupun perasaan, hanya menyulam kata-kata meskipun ada makna, tapi tak sesekali menggetarkan jiwa. # Kenapa mencoba? Orang-orang yang senantiasa duduk di aula simfoni mengagumi kreasi namun tak bisa menciptakannya sendiri. Patahan surat Bukowski kepada para editor Coastline (Akhir tahun 1962). Di dalam surat ini, Bukowski curhat kalau ia tak bisa...