Langsung ke konten utama

Postingan

Perayaan Kekalahan

  Foto oleh M. Bahruddin 15 Januari tahun lalu, saya kalah taruhan dengan teman saya berinisial MSA. Sebungkus rokok pabrikan Kediri rela saya berikan padanya. Walau nilai rupiahnya tak seberapa, saya merasa kalah telak, hampir diinjak-dinjak oleh tulisannya yang terbit di berbagai media setelah hari kemenangannya itu. Iya, saya bertauh tulisan. Siapa yang tulisannya dimuat oleh media terlebih dahulu, maka ia yang menang. Waktu itu media yang dituju adalah Terminalmojok, media yang didirikan oleh Puthut EA kalau saya tidak salah. Kami menyadari kalau kualitas tulisan kami belum seberapa, bahkan bisa dikata belum baik sama sekali. Bagaimanapun kami hanya punya semangat dan rasa percaya diri tinggi sebagai modal awal—yang kelak akan menentukan siapa diri saya dan siapa dirinya—mencoba atau iseng-iseng mengirim karya tulis kami. Saya dengannya sama-sama berproses di pers mahasiswa atau yang biasa disebut Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), mulai dari semester pertama sampai sekarang. Me...

Menyunam

Tidak ada lagi Jakarta Hari Ini a la For Revenge, tidak butuh juga Ingin Hilang Ingatan- nya Rocket Rockers. Aku tetap berdiri di sini sejak pubertas, tepatnya saat SMP. Aku selalu percaya bahwa segala sesuatu tidak pernah berubah seutuhnya. Seperti diriku, kerja semesta adalah pantulannya. Maka tidak ada yang disalahkan dan dibenarkan, apapun yang telah terjadi sudah terekam, dan hanya semesta pemilik kasetnya. Aku, kalian dan semua tidak pernah benar berubah. Perubahan hanya tinggal omong kosong yang berbusa-busa. Kecuali perubahan itu berjalan sendirinya, oleh pantulan-pantulan diri kita, yang sebenarnya bukan perubahan, yang ada hanya penghapusan, pemberlakuan dan ketetapan sementara. Lihatlah pohon-pohon, angin, laut, matahari, langit yang begitu saja setiap hari. Atau lihatlah dirimu sendiri, apa yang berubah darimu? Perubahan itu khayali, hanya ada dalam Power Rangers, Satria Baja Hitam dan angan-angan. Ketika preman menodong pisau ke lehermu lantas kau berubah menjadi le...

Ha, senja?

Senja 25/10/19.   I Mata memerah  Bangun hendak cerita Kepada siang II Panas menyengat Rapuh hati dipasung Hidup dan uang III Rasa hatiku  Tersayat kenyataan Nota dan emas IV Pasrah sudahi Tak ada air mata Aspal panas-Nya V Gerigi terus Memutar pikiranku Mulai kembali VI Kepada angin Di jalan tanpa batu Sore yang raya VII Akhirnya diam Ucapan kotor mulut Kepada senja VIII Perlahan sirna Anak panah yang lepas Burung berkelebat IX Menghujam dada Darah keluar deras Rona merah itu X Maka sudahlah Selesai dalam hening Gemuruh adzan

Trihatekno

Aku yang mati tak terkoneksi Wi-Fi Miskin kuota Bingung dan resah tidak punya kuota Sendiri sepi Duduk dan diam Dingin nya malam hujan Tak terkoneksi 15/02/21

Tentang Dunia yang Mungkin Ada

  Dunia sekarang semakin cepat. Bukan hanya waktu. Mulai dari makanan, minuman, sampai informasi dan hal lain tak dapat dibendung kecepatannya. Kecuali pilihan menolak atau menyingkir dari pola-pola instan. Mie instan mungkin sejak paruh abad yang lalu mulai diproduksi dan membeludak. Kini tak hanya mie instan melainkan semua jenis makanan dari makanan berat sampai ringan. Menilik minuman pun demikian, sejak bila cocacola dan minuman soft drink serta mineral kemasan. Begitupun pakaian. Jika ditelisik lebih jauh. Ini jelaslah dampak dari kecanggihan teknologi dan kapitalisme yang tak kunjung menggali liang lahatnya sendiri. Dari teknologi transportasi dan komunikasi, menjadikan apa-apa lebih mudah. Ditambah sokongan kebutuhan sehari-hari yang telah disediakan pemilik modal dari keringat para proletar yang setiap hari bekerja seperti robot. Ini akan berlanjut sampai para pekerja menjadi pengangguran karena digantikan oleh mesin dan robot. Sudah terlihat sekarang. Apakah ini zaman a...

Dicumbu Cemas

DICUMBU CEMAS Bulan berpendar redup di halangi awan tipis di halaman orang duduk terlungkup menatap kosong ke betis ke rerumbunan gelap ke langit Kawan-kawannya dahulu suka berorasi, berteori-teori akhir inisering  ponsel mereka bertalu mendengar suara itu-itu menatap layar biru ke bawah Kabar bukan burung lagi cepat serupa kilat setiap saat, tanpa kata istirahat di beranda sosial maya kelewat batas meruap dalam genggaman Dunia bukan main lainnya zaman baru tiada henti merongrong ingatan, melemahkan pikiran orang-orang yang lengang tak terpaut waktu dicumbu cemas                                                            Serut, 6-2-22

Beban? Ya, Ini Hidup!

  Lucu sih, ketika ada yang menyatakan kalau aku adalah orang yang tak pernah memiliki beban. Lalu kembali kutanyakan: Apa itu beban? Banyak yang tak menyadari bahwa hidup (manusia) adalah beban. Beban itu, hematku, adalah hidup itu sendiri. Tak mungkin seseorang tak memiliki beban, jika hidup sendiri adalah beban. Lalu berlebihan kah jika aku mengatakan bahwa hidup adalah beban? Tidak! Lalu, jika hidup adalah beban, apa solusi untuk mengurangi beban itu? Tidak! Kutegaskan ‘tidak’ karena memang tak perlu dikurangi. Alasanku hidup karena aku memiliki banyak beban. Sangat keliru jika sseorang bunuh diri hanya karena merasa hidupnya penuh beban. Beban ada untuk menghidupi semangat pembebasan. Bukan agar terbebas dari beban, namun menyelesaikan. Di sini aku menggunakan kata ‘selesai’ karena tak ada kata yang mampu menandinginya. Kebanyakan orang bilang berhasil pada momen pun posisi tertentu, namun belum tentu selesai. Selama manusia bernafas artinya ia belum selesai; apapun itu. ...