Foto oleh M. Bahruddin 15 Januari tahun lalu, saya kalah taruhan dengan teman saya berinisial MSA. Sebungkus rokok pabrikan Kediri rela saya berikan padanya. Walau nilai rupiahnya tak seberapa, saya merasa kalah telak, hampir diinjak-dinjak oleh tulisannya yang terbit di berbagai media setelah hari kemenangannya itu. Iya, saya bertauh tulisan. Siapa yang tulisannya dimuat oleh media terlebih dahulu, maka ia yang menang. Waktu itu media yang dituju adalah Terminalmojok, media yang didirikan oleh Puthut EA kalau saya tidak salah. Kami menyadari kalau kualitas tulisan kami belum seberapa, bahkan bisa dikata belum baik sama sekali. Bagaimanapun kami hanya punya semangat dan rasa percaya diri tinggi sebagai modal awal—yang kelak akan menentukan siapa diri saya dan siapa dirinya—mencoba atau iseng-iseng mengirim karya tulis kami. Saya dengannya sama-sama berproses di pers mahasiswa atau yang biasa disebut Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), mulai dari semester pertama sampai sekarang. Me...