Langsung ke konten utama

Postingan

Ceguk Vok. I

 I Mati rasanya  dihantam kerinduan Hujan tak reda II Ingin rasanya  terbang ke atas awan Cerahnya semi III Bukan ingin ku Balik ke masa lalu Setetes embun IV Pergilah jauh Dalam gelap nan sunyi Sebelum surya V Mari tertawa Tenggelam dalam senang Sore yang cerah VI Bersuka ria Berjalan dengan senyum Di bawah hujan VII Beriring luka Masuk dalam dada Masa yang lalu VIII Mengejar mimpi Dengan penuh semangat Pagi yang cerah IX Menerjang ombak Jiwa yang penuh luka Ke ufuk barat X Pernah terlintas Wajahmu dalam angan Sebelum tidur

AKU MABUK MAKA AKU MENULIS #2

AFORISME DARI BUKU: CHARLES BUKOWSKI ON WRITING # Karya seni bagus adalah yang kuasa menggetarkan jiwa, kalau tidak, berarti itu cuma karya picisan. Sepenggal isi surat Bukowski kepada John Webb (1961), yang saya kutip sebagai aforisme/peribahasa. Bukowski banyak meninggalkan karya-karya agung. Sebagai penulis ia jujur dalam menulis apapun, dan tak pernah menulisnya untuk kedua kali, dalam artian ketika ia menulis, ia jarang sekali merubah karya yang ia tulis, bahkan, ia tidak punya salinan karyanya. Ia sering mengkritik sajak-puisi yang dimuat disalah satu majalah ternama. Dimana kebanyakan penulis, menulis puisi bukan dari hati ataupun perasaan, hanya menyulam kata-kata meskipun ada makna, tapi tak sesekali menggetarkan jiwa. # Kenapa mencoba? Orang-orang yang senantiasa duduk di aula simfoni mengagumi kreasi namun tak bisa menciptakannya sendiri. Patahan surat Bukowski kepada para editor Coastline (Akhir tahun 1962). Di dalam surat ini, Bukowski curhat kalau ia tak bisa...

Jumatan Puisi: Selasa Jiwa

012012 TIDAK SEMUA BINATANG BERJALAN TIDAK SEMUA IKAN MENYELAM TIDAK ADA YANG BISA MEWAKILKAN BURUNG BERHENTI MENGITARI CAKRAWALA TIDAK ADA YANG BISA MENGHENTIKAN AIR YANG TERUS MENGALIR TIDAK ADA YANG MAMPU MEMBERIKAN HARAPAN KEPADA DIRI SENDIRI TANPA TERKECUALI DIRIMU SENDIRI BUKAN UNTUK APA DAN KARENA APA TAPI INILAH JALAN YANG MEMANG KITA DIHADAPKAN UNTUK BERJALAN TAK PEDULI DI DEPAN ADA APA DI KANANMU ADA APA DI KIRIMU ADA APA SEMUA YANG KITA LALUI HANYA SEBATAS MASALAH YANG ANAK AYAM PUN BISA MENGATASINYA SEPERTI KELAPARAN KEHAUSAN KEDINGINAN KEPANASAN KEJATUHAN TANGGA DIROBOHKAN KENYATAAN DIHANTAM OMBAK KITA ADALAH BATU KARANG ITU DIHEMPAS ANGIN KITA ADALAH DAUN YANG GUGUR ITU KITA TAK LEBIH SEPERTI ITU DAN SEMUA YANG TELAH B ERLALU SELALU MENCIPTA HAL YANG BARU DAN AKAN TERUS BEGITU BERPUTAR TAK HENTI MENGITARI BUMI MELINTASI JALAN-JALAN YANG DI TITIK ITU KITA AKAN KEMBALI   - MESKIPUN KITA TAH HENTI MENGELUH KITA YANG DI BAWAH DI INJAK DAN DI HENTAK-HENTAK TAK HENTI  ...

Seninan Puishibi #1

  272011 Aku melihatmu seperti melihat surga Matamu bukan seperti rembulan Yang sering disebut-sebut pujangga Matamu kalau aku hiperbola Ya, seperti mutiara Berkilau dan sangat dalam   282011 Ya, mungkin aku akan sulit Mengenalmu Tak ada usaha sih Kenapa ya? Mungkin karena... Ini prespektif ya! Kita ingin, eh Aku sih, atau engkau Hanya berdekat di hati   # Pagi ini kulihat lagi Matamu yang jernih Bening seperti mata air   Oh, bunga-bunga di taman Mekarlah, mewangi Atau Oh, mata air Teruslah mengalir Terus menerus ke bawah Ke hatiku # Ya kali alay, menulis bagiku menulis saja hahaha   * Arah mata angin Orang lain Hanya ada empat Sedangkan Arah mata anginku Ada lima Utara Selatan Timur Barat Kamu!   * Sore sampai malam Matamu tak lekang dari ingatku Mata yang anggun Mata air Yang menghidupi Hidup ini 302011 Aku tidak ingin lagi Mencintaimu Aku tid...

AKU MABUK MAKA AKU MENULIS!

Charles Bukowski On Writing Banyak yang mengira menulis bukan jalan menjadi Hokage atau menjadi Ouka Shicibukai. Ya, memang bukan! Menulis bukan sebagai jalan, menulis ya menulis! Kalau pingin sampai tujuan ya lari atau naik bus saja, itu lebih mudah, daripada menulis. Begitulah kiranya, amanat yang mungkin kudapati dari membaca buku terjemahan Shira Media setebal 254 halaman. Diterjemahkan oleh Laila Qadria dengan cukup baik dan terbit pada tahun pandemi ini. Warbyasa!!! Buku ini, isinya hanya korespondensi Bukowski kepada kawan, lawan dan penerbit. Meski begitu, isi surat yang ditulis Bukowski menarik dan cukup menghibur. Didalam buku ini, alur surat-menyuratnya diurutkan berdasarkan waktu dengan begitu, meski hanya membaca isi suratnya saja, kita bisa merasakan perkembangan Bukowski meski tak banyak berbeda dari tahun ke tahun—seperti mabuk. Tak enak kiranya, memanggil-manggil dewa sastra tanpa memperkenalkannya terlebih dahulu. Okelah, ini dia, kita sambut sang dewa sastra ...

Trigatra: Sirke Pembebasan

VOK.1 Dalam perjalanan membangun surga dunia Tak ada bidadari se-ideal dirimu Tak ada jembatan lagi Karena neraka bagiku adalah pengekangan Proyeksi itu muncul di dalam angan yang bebas liar mengembara Malaikat tak lagi menjadi jongos Dan setan-setan telah kenyang menggoda iman Ia melahap hasrat bahagia di hari kebangkitan Lalu dimana Tuhan?  Jika surga dunia benar-benar adanya Kebebasan itupun menjadi neraka bagiku Aku terkekang oleh kebebasan Kebebasan Tuhan! MK, [03:11, 01/07/20] VOK.2 Semburat kebebasan telah muncul Di ufuk timur peradaban Setiap kepala ber-otak Setiap kata "Berontak!" Menggema Bagi mereka yang rela di perintah Tidak ada neraka dalam kenyataan Surganya pun telah tergadaikan Di atas selembar kertas bertanda tangan--Tuan. Hidup dalam kebimbangan Ke-buntuan Keyakinan telah dikoyak ramai Berjubel dalam perasaan Terngiang-ngiang liang lahat pembebasan Kebebasan adalah ancaman Tidak lebih bagi diri sendiri Yang bersikeras menentang pengekangan Tapi hati tetapla...

Resensi buku: Pelaut yang Ternoda karya Yukio Mishima

Hidup adalah kerinduan pada maut Laut lebih luas dari daratan. Itulah yang ku ketahui. Baik dari ukuran maupun isi nya. Di banding laut, daratan hanya membangun menara, gedung, dan menciptakan banyak sampah. Tapi aku hidup di daratan.  hehe Ingat laut, ingat juga lagu yang kalau tak salah bunyinya; "nenek moyangku seorang pelaut..." Pun juga mengingatkan kita kepada Kimitake Hiraoka, atau yang lebih kita kenal dengan nama Yukio Mishima, adalah Sastrawan kondang Jepang. Ia lahir abad ke-20, lebih tepatnya tahun 1925 pada bulan Januari tanggal 15 di Tokyo, Jepang. Tiga kali Mishima mendapatkan penghargaan Nobel lewat karya-karya epic nya. Dan salah satu novelnya yang telah rampung ku baca dalam judul aslinya Gogo no Eiko lalu diterjemahkan kedalam bahasa Inggris The Sailor Who Fell from Grace with the Sea yang artinya 'Pelaut yang berdosa dengan laut' tr. John Nathan. Tentunya judul itu di ambil dari tafsiran penerjemah. Tafsiran fase kedua, dari Gogo no Eiko yang di...